0

syahaha

oh ini si Exq

Advertisements
0

ELDAR : Road to construction of magic spells (by Hazuki Auryn) #1

ImageEldar – Konsep Bahasa

Penanda:

Eldar identik dengan huruf v, ss, sh, r, sy.

Eldar asing dengan huruf x, xh, dan segala yang berhubungan dengan huruf x.

Lovania = bunga (sejenis) tulip bergradasi.

Luira = pohon berdaun ungu berpendar di malam hari Jadi: Nama pohon dan bunga identik dengan awalan L.

Gugusan mantra: Mantra-mantra tua, setua Eldar.

Bahasa mantra: Menggunakan bahasa tua, mungkin bahasa Manusia Besar. Atau, bisa juga bahasa dari bangsa yang lebih tua dari Manusia Besar. Tapi, sepertinya yang tertua di Eldar ya Manusia Besar itu. Dan, yang mengetahui mimpi-mimpi adalah para Manusia Besar. Jadi, yang paling tepat, bahasa tua di Eldar adalah bahasa Manusia Besar.

Karakter Manusia Besar: Bicara dan bergerak dengan lambat. Maka: Bahasanya pun akan menjadi bahasa yang lambat, berdengung-dengung, dan melenakan.

Mantra yang dihasilkan dari bahasa ini: Mantra-mantra tua. Artinya, mantra bentukan penyihir pada masa baru, tidak sama dengan mantra tua yang menggunakan bahasa Manusia Besar. Mantra penyihir masa baru disebut Pesona (atau apa pun, terserah nyebutnya apa). Mantra bangsa tua disebut Mantram (ada akhiran –m di sini), atau Mantrama (ini pemikiranku, sih, gak usah dipakai kalau gak sesuai

Image
0

ELDAR – Violin & Negeri Salju Abadi

ELDAR - Violin & Negeri Salju Abadi

Eldar adalah novel fantasy-tale yang mengisahkan kehidupan anak-anak suku Vassal di desa yang penuh pepohonan pinus dan salju lebat. Kisah ceria yang penuh dengan dongeng-dongeng hangat di malam hari ketika salju turun dengan sangat deras. Sampai akhirnya masa-masa ceria itu seolah terlupakan ketika Violin Reila Vassal, memiliki firasat buruk tentang kehilangan temannya yang paling berharga. Maka dari sanalah awal mula keinginan pergi ke Eldar (dunia yang selama ini hadir dalam dongeng-dongeng hangat) muncul.

untuk lebih jelas, silakan lihat video trailer berikut

dan yang ini untuk Video trailer versi romance

0

Review : Romano

-Review Novel Romano-

Judul : RomanoImage

Penulis : Nadine Zulia Putri

Penerbit : Diva Press

Tebal : 264 halaman

Sebelumnya aku mau minta maap sama si Nadine, soalnya repiu ini pastinya engga patut diteladani. Yah… cuman asal nuangin tulisan sotoy soal buku perdanamu ini 😀

Waha… maap juga baru bisa repiu sekarang. #ehm. Sebenernya uda rampung baca sehari setelah dikasi oleh dikau. Ehm#

“Apa, dikasih?” tanya orang-orang di pinggir jalan yang kebetulan lewat.

Dengan pedenya, aku njawab. “Iya. Ini dikasih. Rasakan bagi kalian yang ngiri. Wkwkw!!” #ditampar bolak-balik sama si Nadine.

Oke, langsung saja deh.

Judul : catet gede-gede ya! Judulnya ‘ROMANO.’ Bagi kalian yang engga tau apa itu Romano, sama aku juga pas liat covernya. Tapi… mungkin sih pelencengan dari ‘Roman’ ato apalah itu. Yang jelas, dari judulnya aja uda keliatan ini romance.

“Hey, Violin! Sapa juga yang bakalan nganggep ini Fantasi?” celetuk si Nadine dari depan laptopnya, dan njitak kepala guwa berkali-kali.

Yeah… ini cerita romance. Dan, si judul itu ternyata nama si tokoh. Romano. #dan kalo dari isi cerita, sekaligus aku pernah nguping beberapa kali dari si Nadine, kaiaknya ini rada-rada nyeritain kisahnya sendiri. Hwahahaha…

Covernya dulu deh. Humm… ini earna apa? Jingga, dengan gambar hati di pojok kiri bawah dipegang dua tangan #entah tangan siapa. Dan ada juga gambar ngengat jingga di sebelah nama penulisnya. Covernya sih dibilang nyambung sama jalan cerita, ya emang nyambung sih. Kalo gambar ati, itu kan khas cerita-cerita romens, dan itu sudah standar. Dan si ngengat itu, emang nanti di cerita, si tokoh utama mencoba berjuang menjadi ngengat. Hum… dari ulat bulu jadi ngengat. #kupukupudingkaiaknya.

Di back cover, ada identitas penulis yang bukannya di dalem buku, malah ada di situ. Sah-sah aja sih 😀

Dan… ada blurb pendek yang emm… entahkenapa #digebukin-entah-kenapa-fans-club. Kaiaknya rada sama sekali engga masuk ke cerita. Ini cuman kaiak bait puisi yang langsung dicemplungin ke back cover. Kalo baca sekilas, bagi yang uda biasa baca tinlit, mungkin engga apa-apa. Tapi ini mata guwa, dan guwa berhak berpendapat #peace! Ini kurang masuk ke cerita, meski bukan berarti harus ngasih spoiler loh.

“Bukannya aku tak mencintaimu lagi. Hanya saja sekarang, aku punya seseorang yang akan selalu membuatku bahagia, tertawa bersamanya, menjalani sisa hidup bersamanya, dan blablablabla…..”

Sekilas, ekspektasi guwa ini cerita bakalan tentang cowok-cewek yang pacaran, terus salah satunya deket sama orang lain, dan ngerasa lebih nyaman, terus ninggalin pacarnya itu. #apa-jangan-jangan-cuman-guwa-yang-ngerasa-gitu?

Jadi… mari masuk ke bukunya. Kita tinggalkan blurb dan kawannya si ngengat #kupukupu itu!

Halaman pertama. Yeeeee………. aku dapet tanda tangan spesial dari mbak Nadine #apasih?

Halaman berikutnya, ada ucapan terima kasih yang lumayan panjang, dan intinya, ini buku engga maen-maen, cosalnya buku ini tercipta atas campur tangan alias bimbingan dari pak Edi Mulyono alias Edi Akhiles, sang CEO dari Diva Press. So, guwa harus hati-hati mbedah ni buku #abaikan!

Prolog. Bagus. Cantik. Indah. Nampar. Mak jleb.

Why? Mungkin uda ngga asing sih, tapi di prolog ini nggambarin peristiwa jauh sekali dari awal cerita #lebih tepatnya mungkin hampir ending. Dan itu membuat guwa penasaran. Ini apaan, kok jadi kayak gini? #istilah lainnya “Hmm, apa yang membuat si tokoh sampai ke titk itu?” intinya di prolog itu nggambarin sebuah peristiwa ketika enam tahun sudah berlalu dari awal cerita dimulai, dan semuanya benar-benar hampir selesai. So… siapa yang engga penasaran tentang jalan cerita? Lanjutt…

Langsung ke cerita aja deh! #kemana aja, mas?

Ceritanya ya… berkisar seputar anak-anak SMA kayak kebanyakan tinlit lainnya. Si Nayla, si bintang cerita alias tokoh nomor wahid ini punya pacar tukang gali kubur #eh, maksudnya gali tambang. Ceritanya mereka pacarannya LDR gitu, meski guwa juga kagag paham apa itu LDR. *Lama nDak weRuh* kali. Si cowok ini namanya Romano. Yap. Judul bukunya. Dia itu cowok keren, bule #kalo aku nggak salah baca. Kaya, mapan, dan segala yang diidamkan cewek-cewek ada padanya. Hampir mirip guwa mungkin #dirajam si Nadine. Uniknya, si Romano ini engga pernah mau nggandeng tangan si Nayla selama pacaran. Nggandeng aja ngga pernah, apalagi meluk, apalagi nyium, apalagi yang macem-macem. Dengan alasan… si Nayla itu masih di bawah umur. #hadeeh, ada nggak cowok beneran kayak gini ya? Ada ya, Nad? Jangan-jangan emang ada? Hwahahaha….

Dan, di cerita ini, si Romano udah berani nggandeng tangan si Nayla, soalnya Nayla uda kelas 3, dan uda punya KTP juga. Yeah… standar lah, mereka pacaran jarak jauh, satunya di palembang, satunya lagi di gua-gua buatan #bayangin kurcaci di Lord of The Rings! Buat nyari emas dan kawan-kawannya.

Jadi… judulnya kenapa Romano, mungkin karena d cerita, Romano ini bener-bener segalanya bagi si Nadine, eh Nayla. Terus, menjelang pertengahan cerita, ato malah rada di awal, sori guwa rada lupa, si Romano ini mendadak ngilang gitu aja dari kehidupan si Nayla #sempet telepon buat nyatai putus si.

Nah, di sinilah ceritanya mulai seru. Kan ngga asik kalo romens itu hepiiiii, mulu. Guwa suka banget gimana Nayla engga bisa ngelupain Romano, dan setiap ada hal penting, dia selalu ngirim email ke Romano. Dia terus ngabarin kehidupannya yang sudah berubah pada cowok idamannya itu. Ngarepnya si dibalas, tapi ampe berbulan-bulan, bertahun-tahun, berabad-abad, dan ber-ber lainnya, engga ada balasan dari si penggali tambang itu.

Dan… ketika ditinggal sama si Romano, si Nayla ini sipatnya berubah. Dulunya ceria, dan gemar tertawa, berubah menjadi dingin, penyendiri, dan tidak peduli pada keadaan di sekitarnya #woy, kenapa tulisannya jadi serius gini???

Si Nayla berubah total, dan menjalani hidupnya dengan serius. Dia juga berhasil jadi lulusan terbaik di SMAnya. Terus, seperti janjinya dulu, dia nglanjutin kuliah di Palembang. Kalo ngga salah, ambil jurusan pertambangan, supaya kelak bisa nyusul di Romano itu. Suatu ketika, datang telepon misterius dari cowok. Nggak hanya itu si cowok juga ngontak nona Nayla ini lewat email. Yeah… tipe-tipe cowok asing yang sok bijak nasehatin kayak gitu deh.

Kayak nopel-nopel klise lain, awalnya nona Nayla sebel dan engga suka sama si cowok itu. Tapi eitsss… jangan nganggep se-klise itu ya. Emang, Nayla lama-lama ngerasa nyaman sama si cowok bernama Dzicky yang engga lain adalah sohibnya Romano ini, tapi mereka engga terus kayak siklus roman klise biasanya. (siklus itu misal, tabrakan – marah-marah – sebel-sebel – terus, jatuh cinta! Kalo dalam nopel ini : telepon asing – email-emailan sok bijak – si cewek ilfil – si cewek sebel – terus begitu engga di email si cewek galau – terus jatuh cinta!) No!!! Untungnya ini endak kaiak gitu. Si Dzicky ini emang jadi deket banget sama nona Nayl, tapi enggak kelewatan deketnya. Cuman sebatas kakak gitu deh!! #apasih?

Sejak ini keberadaan mas-mas yang namanya dipakek jadi judul bener-bener ngilang. Si Nayla malah dikisahkan #bah, bahasanya dikisahkan. Diceritai dideketin sama cowok resek yang bener-bener resek, namanya Putra kalo engga salah. Tapi guwa suka sama tipe cowok resek, kepedean, dan bener-bener kayak pengganggu ini. (maksudnya suka, bukan dalam artian ‘guwa cinta elo’ gitu woy. NO!!!! Guwa normal!) yang paling guwa suka, dan mungkin kebangetan reseknya, masak iya si Putra sempet nanyain ke Nayla gini :

“Elo pernah ciuman belum sih?” tentunya engga pakek bahasa elo-elo-guwa-guwa.

Pikir, siapa yang enggak pengen ncekik tuh cowok coba!

Padahal nih, di bab-bab sebelumnya, sempet diceritai kalo Putra ini cowok pinter yang diminati cewek-cewek. Eh, kirain orangnya cool, dingin, pendiem ala-ala karakter cowok di game Final fantasy (bagi yang tahu loh, yang engga, juga gak papa!)

Alkisah selanjutnya… si Putra ini terus ndeketin Nayla. Pastinya tuh cowok naksir sama nona Nayla. Yeah… dengan cara pendekatan yang endak wajar dan cenderung nggangguin plus ngeselin plus bikin mau nyekik tuh cowok.

Parahnya… suatu ketika si Nayla dapet anugerah buat bisa lanjutin S2 di universitas gede di Singapore #bener seingapore, bukan Thailand kan? Hampir nulis Thailand tadi# dan, betapa engga bejo-nya dia, karena yang dapet anugerah itu tak hanya dia, melainkan si cowok resek bernama Putra. Mereka harus tinggal satu rumah di Singapore coba. Seneng banget kan tuh cowok!

And then, sejauh ini guwa mulai bertanya-tanya tanpa alasan tanpa menggunakan kata ‘entah kenapa’ karena takut menjadi tenar, kenapa ni nopel judulnya Romano, padahal si tokoh pemilik nama beken itu uda engga pernah dibahas lagi. Kenapa judulnya bukan Nayla aja, ato Putra, ato Nayla dan Putra, ato Nayla, Putra, dan Romano, atau Nayla dan kawan-kawan, ato yang lainnya. Tapi eitsss… buat Nadine jangan buru-buru nimpuk guwa pakek sepatumu! Mari lanjutkan ke ceritanya dulu, oke?

Si Nayla sama Putra ini nginep ato diadopsi sama keluarga yang ngomongnya melayu-melayu gitu #woy, ini Singapore. Jelas ngomongnya kayak gitu# nah, di sinilah cerita yang meninggalkan mas Romano terjadi. Putra semakin mendekati Nayla, dan seperti kata pepatah, ‘tetes-tetes air bisa membuat bantal-guling berlubang’ begitulah mungkin yang terjadi. Si Nayla mulai akrab sama tuh cowok yang kaiaknya engga rese-rese amat setelah tahu luar dalem #bukan luar dalem yang laen2!

Bahkan… hum. Sempat ada adegan si Nayla diajari maen gitar sama si Putra. Malem-malem, berdua-duaan, pegang-pegangan tangan, dan genjreng-genjreng maen gitar bareng. Romantis? Oh, baca saja sendiri buat ngenilainya.

Dan… lagi-lagi sang mas bang Romano hanya seperti bayangan yang dipasa jadi judul di nopel ini. Sampai… akhirnya pemikiran guwa ini rada berubah pas baca bagian-bagian akhirnya. Pokoknya, diceritain si Romano ini ada sesuatunya. #yang di sini engga bakal guwa katakan, takut ditimpuki Nadine. Intinya, pemikiran guwa tentang Romano yang tiba-tiba kaiak ditelen orc-orc ala The Hobbit, ternyata ada alesannya yang kuat loh. Jadi, guwa ngga jadi pengin nyekik si Nadine gara-gara si mas yang jadi judul kok engga nongol-nongol lagi.

Gimana lagi ya? Hum… pokoknya, si Romano ini tetep jadi pujaannya si Nayla meski si Putra terus menggodanya.

Cerita ini… untung engga pakek bahasa alay bin ajaib kayak elu-elu-guwa-guwa. Bahasanya yaaaaa… dibilang nyastra sih engga, tapi kaiak nopel-nopel karya embak pujaanku yakni Ilana Tan dengan Winter in Tokyo dan kawan-kawan sesama musimnya. Meski di Romano, Point of View alias POV, alias Sudut Pandangnya itu orang pertama, engga kaiak mamah Ilana Tan. But… ini guwa demen deh. Romens ya romens. Tinlit ya tinlit. Engga alay ya engga alay. Guwa suka ya guwa suka. #maap buwat yang suka tinlit dengan bahasa elu2guwa2. Ini masalah pribadi kok 😀

Dan uh… konfliknya engga ribet. Simpel, tapi mak jleb. Kalo kata bang Tere Liye, punya sudut pandang spesial. Menurutku ya di situ, di bahasanya yang dewasa #maksudnya mapan# dan arah ceritanya yang engga klise-klise amat. Meski aku udah nebak endingnya bakal kayak gimana. Tapi keren lah.

Nah, udah muji-mujinya. Sekarang saatnya… hwahahahahahahahahahahahaaaaaaa…….. PEMBANTAIANNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Mulai dari blurb tadi itu. Di mana nyambungnya coba? Berdasarkan blurb, kita bakal ngira jalan ceritanya itu si Nayla pacaran sama Romano, terus si Putra dateng dengan keregresifannya itu, terus si Nayla berpaling dari Romano gara-gara Putra. Baca coba :

“Bukanya aku tak mencintaimu lagi. Hanya saja sekarang, aku punya seseorang yang akan selalu membuatku bahagia, tertawa bersamanya, menjalani sisa hidup bersamanya,”

Ini jelas-jelas si Nayla yang ninggalin Romano.

“Eh, bang Roman. Aku bukannya engga cinta lagi sama kamu. Tapi aku kenal Putra. Dia itu oke dah. Bisa buat aku tertawa, njagain aku, dan aku mau idup bersamanya,”

Kayaknya gitu di otakku. Nyatanya di cerita, si Nayla itu cinta sampe mampus sama Romano. Dan engga mungkin milih Putra sampai kapan pun. #meski ada satu alasan yang membuat fakta berkata lain#

Ini kalo si Romano dateng baek-baek dalam kondisi yang baek pula, si Nayla uda pasti kembali ke pelukan tuh mas-mas yang namanya dipakek jadi judul kok.

Mungkin bener, blurb yang kayak gini bikin pembaca ngerasa “Ah, ternyata gini toh. Engga kayak di Blurb,” bagus sih. Tapi bagi guwa, ya lebih bagus kalo ‘pas’ sama ceritanya.

Judul bab. Huh. Bab satu judulnya Lotus. Dari awal bab satu engga nyinggung-nyinggung tuh nama bunga. Tiba-tiba aja ada statement bijak tentang Lotus. Intinya, jadilah manusia yang mirip Lotus. Yang idup di tempat kotor, dan membersihkannya. Oke sih. Sah-sah aja ngasih judul bab. Tapi menurut guwa, kaiaknya rada maksa deh. #pribadi sih, guwa lebih suka kalo judul bab itu engga diceritai secara langsung, tetapi secara alur itu mewakilinya. Kalo ini, di awal-awal engga ada lotus, mendadak di bagian akhir ada kata-kata bijak tentang lotus.

Ini juga terjadi di bab-bab berikutnya. Bintang. Hujan. Dan lain-lain sekawan sesohibnya itu. Kayaknya gimana ya? Hummm…. sesuatu di bab itu jadi disangkut-sangkutin sama judul babnya, dengan gaya yang menurut guwa kurang smooth. Untung aja, itu cuman terjadi di awal-awal. Bab-bab berikutnya udah smooth dan engga maksa isi bab masuk ke judul bab-nya.

Lain lagi. Ini mungkin buat editor sih. Atau penulisnya. Entahlah, guwa kagag tahu. Guwa nyatet gede-gede di HP samsung butut guwa. Romano halaman 98 paragraf akhir. Helloo..

“Semuanya baik-baik saja,” kataku tersenyum palsu. “Jangan bohong, Nay!” sergah Fidya.

Tulisannya gitu. Dua tokoh berbeda yang ngomong, ditumpang-tindih jadi satu paragraf.

Terus… ada banyak banget, eh engga banyak juga ding. Cuman beberapa. Ada kalimat-kalimat atau paragraf tepatnya, yang berakhir tanpa titik, tanda seru, tanda tanya. Eh, malah koma. Ini guwa yang engga tau ato emang ada aturannya ya?

“Kau meragukan pekerjaanku?” tanyanya tersinggung,

Aku tertawa mendenharnya. (hal. 227) CMIIW! (correct me if i’m wrong) itu boleh apa kagag? Itu akhir paragraf loh. Bukan paragraf sih sebenernya #ditimpuk masa!

Terus, malah ada beberapa yang tanpa tanda baca sama sekali. Contohnya satu ini.

“Aku yang menyebabkanmu menjadi seperti ini! Maafkan aku, Nay,” katanya pelan

Aku mencoba tersenyum. (hal. 229) itu beneran engga ada titiknya, dan masih ada beberapa di bagian lain.

Ini koreksi saja sih buat mbak Ajjah sama kawan-kawannya 😀

#guwa ngerti sih, ngedit itu njlimet banget, dan kesalahan ini pun wajar. Tapi ya… guwa tetep harus komen dong J

Tapi… guwa jatuh cinta sama kalimat terakhir di nopel ini! Gini bunyinya.

“Cinta menguatkan sang pemberani. Cinta juga melemahkan sang pengecut!”

Kalimat ini… sesuatu banget yang mak jleb dan ngiris-iris otak guwa.

Overall… ini nopel keren. Bagi kalian yang mencari novel romens tinlit yang pintar dan engga alay, carilah bang Romano ini! Dapatkan di toko buku terdekat!

Salam, Violin!

#udah guwa ingetin, ini engga patut dijadikan teladan 😀

0

Kisah Tentang Musim Dingin

Image

 

-Kisah Tentang Musim Dingin-

Oleh: K.A.Z_Violin

 

 

 

 

Delapan tahun yang lalu…

 

Aku merasakannya…

saat rasa dingin yang membekukanku ini semakin parah…

kau datang dengan kehangatanmu,…

dan membantuku menemukan harapan.

 

*-*-*-*

Pagi itu salju berjatuhan dengan deras. Butir-butir putih yang beku itu melayang-layang dan menghampar di jalanan. Di sudut jalan, tepatnya di bawah sebuah pohon, seorang bocah dengan pakaian yang cukup tebal sedang berjongkok sambil menggigil kedinginan. Sepertinya dia juga menangis.

“Kau kenapa?” sebuah suara lembut menyapa si bocah.

Bocah yang tadinya menangis itu mendongak. Di sudut matanya yang penuh air, dia melihat seorang gadis sebaya dengannya yang keheranan. Gadis itu menggunakan pakaian super tebal dan memakai topi wol yang melindungi kepalanya. “Siapa?” tanya si bocah nyaris berbisik.

“Aku?” si gadis balas bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Dia tersenyum hangat, lalu ikut berjongkok di depan si bocah. “Firelia.” Sambungnya sambil menjulurkan tangan.

Si bocah menatap wajah gadis bernama Firelia itu. Wajah yang memerah karena kedinginan, tapi terlihat sangat cantik. Kemudian dia menatap tangan Firelia yang terjulur kepadanya. “Violin!” balasnya. Dia menjabat tangan Firelia, dan saat itulah kehangatan mengalir ke tubuhnya. Kehangatan aneh yang terasa… nyaman.

“Kau kedinginan ya?” tanya Firelia lembut. Dia terus menggenggam tangan Violin agar tangan itu merasakan kehangatan. “Kenapa kau menangis?” sambungnya heran.

Violin diam. Dia menundukkan kepalanya begitu dalam, dan tak berniat menceritakan masalahnya.

“Baiklah, kau mungkin tak mau cerita. Tapi apapun masalah yang membuatmu menangis itu…” Firelia mendekatkan tubuhnya ke arah Violin. Dengan tangan kirinya dia membelai pipi bocah itu bermaksud menghapus airmatanya. “Pasti akan membuatmu semakin kuat. Ingat, setiapkali hujan reda, bunga selalu tumbuh kan?” dia tersenyum lembut.

Wajah Violin memanas. Dia merasa sentuhan gadis itu memberikan kenyamanan, hingga hatinya terasa hangat. “Bunga?” tanyanya pelan.

Firelia mengangguk dan tersenyum semakin lebar. “Seusai hujan, bunga akan tumbuh. Juga seusai kesedihanmu, kebahagiaan akan muncul. Itu yang harus kau yakini.” Dia berdiri dengan pelan.

Violin menatap sosok Firelia yang berdiri di depannya. Dia merasa nyaman setelah kehadiran gadis yang baru dikenalnya itu, dan saat itulah Firelia melepas topi wolnya.

“Pulanglah! Sepertinya salju akan semakin tebal,” ucap Firelia sambil memakaikan topinya di kepala Violin.

Violin terkejut. Jantungnya berdetak begitu cepat dan cukup menyakitkan. Wajahnya memerah, tapi rasa nyaman juga menyertainya. Dia menatap Firelia yang kini tersenyum.

Lalu gadis itu berlalu. Punggungnya meninggalkan Violin yang masih berdiam di tengah salju.

*-*-*-*

 

 

Saat ini…

 

Musim dingin telah berlalu lagi…

sudah berapa tahun semenjak kau datang padaku?

sudah berapa tahun juga kau pergi?

aku selalu merindukan kehangatan yang kau berikan…

*-*-*-*

Salju berjatuhan cukup ringan sore itu. Setelah seharian berjatuhan, kini seluruh kota diselimuti oleh hamparan warna putih yang sangat dingin.

Di antara salju itu, tepatnya di sebuah jalan kecil yang tak luput oleh salju, seorang remaja yang masih menggunakan seragam SMAnya berjalan. Wajah tampannya terlihat memar-memar. Dia menembus salju yang terus berjatuhan dengan langkah pelan sambil menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri. Gadis itu bertambat lemas di punggungnya.

“Vi-Violin!” panggil gadis itu saat perlahan membuka matanya. Dia merasakan punggung yang menggendongnya begitu hangat.

Violin, pria yang menggendong gadis itu bergeming. Dia terus berjalan menembus butir-butir salju yang berjatuhan.

“Violin, turunkan aku! Aku baik,” kata gadis itu lagi. Tidak, jangan turunkan aku!

“Diamlah! Tidur saja kau di punggungku!” balas Violin sangat pelan tanpa sedikit pun menoleh.

“Violin, aku…”

“Iya?” balas Violin pelan.

“Belum ingin pulang…”

Langkah Violin terhenti. Dia membiarkan beberapa butir salju berjatuhan di tubuhnya, lalu kembali melangkah dengan diam.

*-*-*-*

Entah mengapa salju samasekali tak membuat Violin kedinginan. Terlebih saat gadis yang duduk di sebelahnya menyandarkan kepala ke pundaknya. Jantungnya berdetak sangat kencang dan mulai terasa sakit.

“Dhian!” panggil Violin lirih. Dia menatap ke sungai yang airnya tampak begitu dingin di depannya.

“Emm,” balas gadis yang duduk di sebelahnya. Keduanya duduk di sebuah kursi kayu lebar di tepi jalan yang menghadap ke sebuah sungai yang tak luput terkena salju.

Violin membuka mulut hendak berkata, tapi ragu. Dia justru mendesah lelah. “Kau belum mau pulang?” tanyanya tanpa menatap gadis di sebelahnya.

“Belum,”

Setelah itu keheningan yang terasa damai menaungi keduanya.

“Violin!” panggil gadis di sebelah Violin lirih.

Violin tak menjawab. Kehangatan yang melandanya tak mengijinkan untuk berkata apapun. Hanya mendengarkan suara indah gadis itu.

“Kenapa?… kenapa kau melindungiku tadi?”

“Dhian, aku…” akhirnya Violin mampu berkata. Dia berpikir cukup lama, dan melanjutkan ucapannya. “Pria brengsek itu pantas dihajar. Siapa suruh dia menggodamu tadi,” ucapnya lebih tegas.

“Oh… kukira…” kali ini ucapan Dhian yang terpotong. Dia tersenyum lembut, dan memejamkan matanya begitu damai. “Terimakasih!”

Salju mulai berjatuhan dengan deras. Violin menatap baik-baik kristal dingin itu. Mengamati betapa indah mereka.

“Memang indah, kan?” kata Dhian tanpa membuka mata.

Violin menoleh ke arah  Dhian. Dia menatapnya dengan heran, tapi dari suara itu dia merasakan kenyamanan.

“Apa yang kau pikir dari salju, Violin?” Dhian membuka mata, lalu menjulurkan tangan kirinya untuk menerima butir-butir salju. Dia tersenyum, dan memperbaiki posisi kepalanya di pundak kiri Violin.

“Salju?” Violin menengadah ke langit berawan di atas sana. “Entahlah… tapi yang jelas mereka… indah,” dia memejamkan mata untuk merasakan butir-butir salju yang berjatuhan di wajahnya. Seindah dirimu yang membuatku merasa hangat, Dhian. Sambungnya dalam hati.

“Mereka… tidak membuatmu takut lagi?” kata Dhian pelan.

Violin mengerjap. Jantungnya berdetak satu kali dan sangat keras. Dia menoleh kepada Dhian yang saat itu memejamkan matanya lagi. Apa maksudmu?

“Mungkin kau akan membenci mereka lagi, suatu hari nanti, Violin,”

“Tidak akan.” Violin menjawab dengan tegas. “Ayo, kuhantar kau pulang!”

*-*-*-*

Satu hari kemudian

Malang bagi Violin. Dia masih berjalan menyusuri jalanan di malam hari saat salju turun dengan derasnya. Udara terasa membeku. Jalanan dipenuhi hamparan warna putih, dan di kanan-kiri ada beberapa kios yang masih buka, tapi Violin tidak memutuskan untuk berteduh.

Salju ini… Violin menghentikan langkahnya. Dia menjulurkan tangan untuk menerima salju yang berjatuhan. Dalam kebekuan ini… aku justru bisa mengingatmu…

Setelah beberapa saat, Violin melanjutkan langkahnya. Dia menembus udara dingin yang bahkan mampu menerobos pakaian tebalnya.

“Violin!”

Sebuah suara yang terdengar indah itu membuyarkan pikiran Violin. Dia berhenti, lalu menoleh ke sumber suara. Dia melihat seorang gadis yang kedinginan, dan berteduh di salah satu kios. Dhian! Panggilnya dalam hati.

Mereka saling bertatapan beberapa saat. Wajah gadis itu memerah karena kedinginan tapi tetap terlihat cantik. Dia memakai pakain tebal lengkap dengan topi wolnya.

Violin membungkuk pelan. “Selamat malam!” ucapnya lirih sambil berlalu dari gadis itu. Jangan hanya memberiku harapan, Dhian!

Tapi langkah Violin kembali terhenti saat dia mendengar langkah cepat menujunya. Belum sempat dia menoleh, terlebih dahulu Dhian sudah berdiri di sebelahnya.

“Hey, apa yang kau lakukan? Salju semakin deras,” kata Dhian sambil menghusap butir-butir salju di bahu Violin.

Violin tertegun. Jantungnya berdetak satu kali dan begitu menyakitkan. Ada rasa aneh yang menari-nari di hatinya saat tangan gadis itu menyentuhnya. “Apa…”

“Eh?” tanya Dhian heran.

“Lupakan!” Violin berjalan mendahului Dhian, tapi gadis itu kembali menyusul dan berjalan bersebelahan.

“Kenapa kau tidak berteduh?” tanya Dhian bersahabat.

Violin tak segera menjawab. Dia terus menundukkan kepala sambil berpikir. “Karena aku suka mereka,” balas Violin pelan. “Maksudku salju-salju ini,” sambungnya menegaskan.

“Suka?” tanya Dhian heran. “Kenapa?”

“Karena aku bisa merasakan kehangatan dari mereka. Kehangatan saat…” Violin tak menyelesaikan ucapannya.

“Oh…” balas Dhian pelan. “Emm… untuk kemarin itu… terimakasih banyak ya!” lanjutnya mengalihkan pembicaraan. Dia menyinggung tentang perkelahian Violin untuk melindunginya.

“Jangan dipikirkan!”

“Wajahmu?” Dhian menahan tangan Violin hingga langkah mereka terhenti.

Sontak Violin menatap wajah Dhian. Saat itu juga jantungnya terasa akan meledak.

“Masih sakit ya?” tanya Dhian sambil membelai wajah Violin dengan tangan yang terbuntal sarungtangan.

Violin menundukkan kepalanya, lalu berpaling. “Lupakan!” Saat itu juga dia merasa kepalanya begitu hangat. Saat dia menoleh ke arah Dhian, dia baru sadar bahwa topi wol di kepala gadis itu kini berpindah ke kepalanya.

Dhian tersenyum lembut. “Ini hadiah untukmu. Sekalilagi terimakasih!”

Lalu gadis itu berjalan ke depan meninggalkan Violin yang masih tertegun.

Violin langsung terbawa ke beberapa tahun lalu saat ada seorang gadis yang juga memberinya topi wol. Firelia!

“Ayo! Apa kau ingin membeku di sana?” teriak Dhian sambil menoleh ke arah Violin. Gadis itu tersenyum.

Violin membuka mulutnya hendak berkata, tapi tidak jadi. Dia diam beberapa saat sambil terus menatap senyum gadis di depannya. “Bunga akan muncul saat hujan reda, kan?” katanya setengah berteriak.

“Eh?” Dhian memiringkan kepalanya dengan heran. Wajahnya sudah memerah lagi karena kedinginan. Dia diam beberapa saat, lalu berpaling dari Violin.

“Dhian!… apa kau pernah mengatakan itu pada seseorang? Dulu… saat seorang bocah menangis di antara salju?” tanya Violin semakin berharap. Dia maju satu langkah dan berhenti. Bodoh! Apa yang kutanyakan?

Dhian masih membisu. Dia mendesah dan mendongakkan wajahnya ke atas hingga beberapa butir salju menerpa wajahnya. “Menurutmu?” dia menoleh ke arah Violin, tapi kali ini tanpa senyum.

“Ah…” Violin mengerjap. Dia mundur tiga langkah ke belakang saat menerima tatapan gadis itu.

“Aku adalah salju, Violin. Mereka adalah jiwaku.” Dhian merentangkan tangan kanannya ke samping menyambut salju. “Aku ada karena mereka… dan saat musim dingin berlalu, keberadaanku juga akan berlalu,”

Violin mengerjap, tapi dia merasakan kehangatan saat mendengar suara bagai nyanyian tersebut. “Jadi benar? Kau yang datang padaku dulu… membagi jiwa-jiwamu kepadaku karena aku hampir putus asa? Kau memberiku kehidupan dengan saljumu?… apa benar kau itu dia?”

Dhian memutar tubuhnya dan menghadap Violin. Dia mendesah sambil memejamkan mata, lalu kembali menatap Violin. Dengan senyuman. “Kau menjaga jiwa-jiwa itu dengan baik, Violin,” kata Dhian pelan. “Terimakasih karena sudah bisa merasakan hangat saat bersama jiwa-jiwaku!”

“Firelia!” Violin bergegas menuju gadis di depannya itu. Dia berlari menembus salju, tapi segera berhenti.

Dhian memejamkan matanya. Bersamaan dengan itu hembusan salju yang begitu deras muncul dari arahnya dan menerjang Violin.

Violin menggunakan kedua tangannya sebagai perisai menghalau salju itu. Dia mengerang kesal saat semakin lama, hembusan salju itu semakin kencang, dan tidak memungkinkannya untuk menatap Dhian. Dia jatuh merunduk saat terjangan salju berakhir, lalu menghantamkan tinjunya ke jalan  saat menyadari Dhian hilang entah kemana.

*-*-*-*

Setelah malam itu… keberadaan gadis bernama Dhian tak pernah lagi dijumpai oleh Violin. Dia… gadis itu… menghilang.

Violin tak tahu harus berbuat apa. Telah semua orang di sekolahnya dia tanya, tapi tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan gadis itu. Padahal sebelumnya, Violin berharap semuanya akan lebih baik. Setelah dia yakin bahwa Dhian adalah gadis yang dulu memberinya kehangatan. Dulu… delapan tahun yang lalu. Bahwa gadis itu adalah Firelia.

Langkah cepat Violin kini melambat. Telah berhari-hari setelah dia menyadari bahwa keberadaan Dhian menghilang. Bahkan yang lebih mengejutkannya adalah bahwa keberadaan gadis itu juga telah dilupakan di sekolahnya. Kini hanya dia sendiri yang mengingat gadis cantik tersebut.

Violin mendesah lelah sambil menengadah ke atas. Salju berjatuhan dengan pelan dan menerpa wajahnya. “Apakah ini airmatamu, Firelia?… kau menangis sedemikian pilu hingga airmatamu membeku… dan dijatuhkan oleh bintang menjadi salju?” gumamnya pelan, dan menundukkan kepala.

Dia menjulurkan tangan kanannya ke depan saat sebutir salju jatuh. “Ataukah ini justru airmataku?” dia menggenggam sebutir salju itu, lalu mendekap di dadanya. Dia memejamkan mata untuk merasakan kehangatan dari sebutir salju di tangannya.

“Kau bilang bahwa salju adalah jiwamu. Kau juga bilang bahwa kau akan menghilang saat musim dingin berlalu…” Violin membuka matanya. “Tapi musim dingin belum berlalu… kenapa kau menghilang sekarang?”

Violin melanjutkan langkah pelannya. Tidak menyusuri jalan, melainkan ke arah sebuah pohon yang daunnya tertimbun salju. Dia berhenti di bawah pohon itu, lalu berbalik memunggunginya. Dalam sekejap dia menjatuhkan tubuhnya. Dia menekuk kedua kakinya dan memeluknya erat. “Bila memang kau harus pergi… kenapa tidak…” gumamnya dengan terisak. Perasaan haru menyelimutinya, dan tercurah melalui tetesan airmata ke pipinya. Dia menangis… seorang diri, dan di antara salju yang berjatuhan.

Melihat peristiwa itu, seseorang yang dari tadi bersembunyi, kini menampakkan diri. Dia berjalan pelan menghampiri sosok Violin yang masih menangis dalam naungan salju.

“Kau kenapa?”

Suara indah itu terdengar di telinga Violin. Langsung saja dia menghentikan tangisnya, dan mendongak. “Ah…” jantungnya hampir berhenti berdetak. Dia melihat sebuah senyum paling indah yang pernah dilihatnya. Senyum yang sangat hangat hingga mampu mencairkan kebekuan di hatinya.

“Kau menangis lagi?” tanya seorang gadis di depan Violin.

Gadis yang memakai seragam sekolah itu berjongkok di depan Violin. Dia tersenyum beberapa saat sambil menatap wajah Violin yang kedinginan. “Dasar kau ini!” ucapnya sambil mengelus-elus rambut Violin.

Violin menyeka airmatanya. Dia mencoba tersenyum saat melihat gadis paling cantik di matanya itu. “Kemana saja kau?… aku… aku… ah,” ucapannya terhenti saat gadis di depannya membelai wajahnya.

Salju yang mulai deras berjatuhan kini terasa sangat hangat oleh Violin. Dia terus membiarkan gadis di depannya membelai wajahnya yang kini memanas. Kini seluruh tubuhnya terasa hangat karena gadis itu.

“Kelak kau tidak boleh menangis lagi!” pinta gadis itu sambil terus membelai pipi kanan Violin. “Saat ini kau harus menjaga agar bunga yang bermekaran setelah hujan itu tidak kedinginan oleh airmatamu!” dia tersenyum hangat.

Apa yang kau katakan?… apa maksud perkataanmu itu?… kau tidak bermaksud pergi lagi, kan?

“Dhian!”

“Emmm,” gadis itu mengangguk.

“Kau tidak berniat meninggalkanku, kan?” tanya Violin sambil menggenggam tangan gadis itu. Dia meremasnya erat berusaha agar gadis itu tidak bisa pergi.

Gadis itu menghela nafas panjang. Dia diam beberapa saat, sebelum akhirnya berkata. “Aku… akan menghilang saat musim dingin berlalu, Violin!”

“Kalau begitu aku juga akan pergi!” balas Violin cepat. Dia melepaskan tangan gadis itu, lalu menghusap salju yang berjatuhan di kepala si gadis.

“Ah… kau tidak bisa,”

“Kalau begitu kau jangan pergi!”

“Violin!” panggil gadis itu pelan. Dia langsung mendekap erat pria di depannya itu. Membiarkan butir-butir salju yang berjatuhan menerjang raga mereka berdua. “Waktuku habis… aku tak punya waktu lagi,”

Violin diam. Dia membiarkan berbagai emosi berkecamuk di hatinya.

“Dari awal aku tahu ini akan terjadi, tapi aku tetap memaksa untuk bertemu.” Kata gadis itu sambil tersenyum lembut. Entah apa yang sedang dirasakannya kini, tapi dia justru tersenyum.

“Kau masih bisa tersenyum?” tanya Violin pelan. “Apa karena kau itu salju, jadi semua rasa sedihmu telah terbekukan dan mati?” sambungnya lumayan keras.

“Kau salah, Violin.” Gadis itu membelai rambut Violin. “Aku bukanlah salju. Aku adalah musim dinginnya. Aku adalah yang selalu menangis saat salju turun,”

Violin mengerjap. Dia sama sekali tak bisa berpikir normal saat itu, sehingga mempercayai semua ucapan gadis yang memeluknya. “Jadi kau… sedang menangis saat ini?” gumamnya sambil menatap ke atas. Maksudnya menatap butir-butir salju yang terus berjatuhan.

“Iya,” balas gadis itu lirih.

“Lalu… lalu kenapa kau datang padaku dulu?… kenapa kau datang bila tahu akhirnya akan seperti ini?”

“Karena…” gadis itu menghentikan perkataannya. Dia mulai merasakan bahwa pria dalam pelukannya ini juga memeluknya. Bahkan lebih erat. “Perpisahan memang menyakitkan… tapi akan lebih menyakitkan apabila kenangan ini tak pernah ada,”

“Kau egois!” gumam Violin lirih.

Gadis itu tersenyum. Kali ini dia mengendurkan dekapan terhadap Violin, dan membiarkan Violin yang kini memeluknya. “Iya, ya!”

“Dhian!… tubuhmu dingin,” kata Violin saat merasakan rasa hangat di tubuh gadis itu kini menghilang, dan justru membeku.

“Iya. Karena kehangatanku akan kuserahkan padamu. Aku menitipkan mereka padamu,” gadis itu memejamkan mata, dan melemaskan seluruh tubuhnya. Dia membiarkan rengkuhan Violin semakin erat.

“Apa ini berarti…” ucapan Violin terhenti. Dia yang menyadari suatu hal langsung mempererat dekapannya terhadap gadis di pelukannya. “Tolong jangan ucapkan selamat tinggal!”

“Tidak akan,” balas gadis dalam pelukan Violin. “Aku hanya ingin berkata bahwa…”

“Diamlah!” sergah Violin resah. Dia merasa bahwa tubuh gadis itu semakin dingin, bahkan melebihi dinginnya salju. “Tetap diam, dan tidurlah di pelukanku!”

“Violin!” panggil gadis itu tenang. “Kau membuat hatiku hangat… terimakasih!” sambungnya semakin pelan.

“Tidak. Jangan bicara lagi!” Violin semakin merasa resah saat tubuh gadis itu seolah menyusut. Pelukannya semakin renggang, tapi dia langsung mengeratkannya. Tak mau melepaskan gadis itu.

“Aku bahagia bisa bertemu denganmu,” ucap si gadis nyaris berbisik. “Kelak kau jangan menangis lagi, ya! Biar aku saja yang menangis!”

“Apa kau tak bisa diam?”

“Aku adalah musim dingin, Violin! Dan akan selamanya begitu…”

“Lantas kenapa?… apa kau ingin aku melupakan semua tentangmu setelah musim dingin berlalu?”

Tidak, Violin. Jangan lupakan aku! Jangan pernah lupakan aku!

“Aku hanya… musim dingin,”

“Berhenti bicara seperti itu!” kali ini Violin nyaris berteriak. Dia semakin mempererat pelukannya terhadap gadis itu.

“Kau… pasti membenciku setelah ini. Kau pasti akan sangat membenci musim dingin setelah aku pergi…”

“Tidak. Jangan pergi!” pinta Violin. “Aku takkan pernah membencimu. Aku takkan pernah membenci musim dingin. Aku…”

“Jangan… membenciku, Violin!”

“Tidak! Jangan…”

Dan hanya sampai di sana. Memang benar-benar sampai di sana, karena setelah itu salju berjatuhan semakin deras, dan tubuh gadis di dekapan Violin itu memudar di antara salju. Tubuhnya melebur menjadi kristal-kristal dingin dan berhamburan ke segala arah. Meninggalkan Violin yang kini berlutut di tengah-tengah salju. Pria itu merasakan kesedihan teramat sangat, tapi enggan meneteskan airmata sekalipun. Dia takkan menangis.

*-*-*-*

“Ayah, kenapa anak laki-laki itu menangis?” Firelia bertanya kepada seorang pria tua yang berdiri di sebelahnya. Mereka berdiri di sebuah tempat yang penuh oleh butir-butir kristal bercahaya yang terus berjatuhan. Keduanya menatap ke sebuah celah dimensi yang menunjukkan sebuah tempat penuh salju.

“Dia takut dengan musim dingin, Firel! Karena itu dia menangis.” Orangtua yang dipanggil ayah itu menjawab dengan penuh sahajanya.

“Ehmmm…. dia takut padaku?… kenapa dia takut?” tanya Firelia sambil menatap orangtua itu.

“Karena dia menganggapmu mengerikan. Kau memberikan kedinginan yang membelenggu kebahagiaannya. Itulah yang anak itu pikirkan.”

“Ah… aku tidak seperti itu.” Firelia menatap sebal ke arah anak laki-laki yang dia lihat sedang menangis. “Dia harus diberitahu bahwa aku itu tidak menakutkan.”

“Kalau begitu datangilah dia, Firel! Yakinkan dia bahwa musim dingin… maksud Ayah, kau itu tidak menakutkan!”

“Emm!” Firelia mengangguk, lalu berjalan dengan melompat-lompat ke arah celah dimensi di depannya.

Tak lama setelah itu, Firelia telah di depan anak laki-laki yang menangis. “Kenapa kau?” tanyanya kepada anak laki-laki itu.

Anak itu mendongak menatap Firelia. Matanya masih berlinangan airmata. “Siapa?”

“Aku?” Firelia menunjuk dirinya sendiri. Dia tersenyum hangat sambil berjongkok di depan anak itu”Firelia,” dia menjulurkan tangannya.

Anak itu terlihat berpikir. Dia menatap wajah Firelia yang mulai memerah karena kedinginan, lalu menatap tangannya yang terjulur. “Violin,” dia menjabat tangan Firelia.

*-*-*-*

“Violin. Anak itu bernama Violin, Ayah,” kata Firelia setelah kembali ke dunianya yang penuh salju bercahaya.

“Iya. Kau berhasil, Firel. Kau musim dingin yang baik,” kata si orangtua sambil mengelus-elus kepala putrinya.

“Emmm,” Firelia mengangguk. “Aku memberikan topi wolku untuknya.”

“Kau memang baik, sayang.”

“Dan, Ayah!” panggil Firelia lagi. Dia membuka mulutnya hendak berkata, tapi dia ragu. “Bisakah aku bertemu dengannya lagi?… aku ingin berteman dengan anak itu!” sambungya setelah beberapa saat berpikir.

“Bisa, sayang. Tapi tidak sekarang. Tunggulah setelah kau cukup besar!” balas orangtua itu sambil tersenyum.

“Baiklah. Aku akan menunggu.” Firelia tersenyum lembut.

*-*-*-*

 

0

Asgard & Elaiva (konsep)

-Konsep Novel-

 

Judul : Asgard & Elaiva

Genre : Fantasy / Romance / Scie-fi / Action

Penulis : Erclai R. Violin (Nama pena dari Riyanto)

Garis besar : Vinter adalah putra negeri Elaiva yang meninggalkan kerajaannya, dan bergabung dengan kelompok pimpinan Dazel. Dia menjadi pembunuh raja-raja di semua negeri karena alasan yang belum begitu diketahuinya. Suatu ketika, kelompok itu tercerai berai setelah kematian Dazel. Akhirnya, Vinter meninggalkan dunia hitam itu. Dia mencoba berubah, tetapi saat hampir berhasil, dia malah mengetahui kalau semua tindakan pembunuhan raja itu memiliki kebenaran.

 

Storyline:

 

Vinter dulunya adalah putra kedua dari raja di negeri Elaiva. Dia adalah anak yang bersifat sangat dingin, tidak peduli pada hal-hal di sekitarnya, dan sangat benci pada keributan. Suatu ketika, datang orang-orang dari negeri Asgard. Salah satunya adalah putri kedua dari raja Asgard bernama Vesna. Vinter tertarik pada anak perempuan yang lumayan cerewet itu. Awalnya, Vesna juga menyukai Vinter, tapi sebenarnya yang dia sukai adalah saudara kembar Vinter yaitu Violin. Meski begitu, Violin yang punya sifat sama dinginnya dengan Vinter tidak peduli pada Vesna.

Suatu ketika, Vinter membawa Vesna ke tempat yang sepi di sekitar istana Elaiva. Pangeran itu melamar putri Asgard. Saat itu juga ibunda Vinter mendengarnya, dan memarahi Vinter habis-habisan. Menurutnya, Vinter sudah dijodohkan dengan putri dari negeri lain.

Karena Vesna tidak mengatakan apa-apa tentang lamaran itu, Vinter menganggap Vesna juga menyukainya. Dia membantah ibunya mati-matian, dan datanglah Violin yang menjadi kesal setengah mati pada saudara kembarnya itu.

Vesna salah karena tidak mau bilang tentang perasaannya yang sebenarnya waktu itu. Jelas saja Vinter semakin yakin kalau putri Asgard itu mau menerimanya. Karena itu, Vinter langsung membawa Vesna kabur dari sana. Atau lebih tepatnya, Vinter menculik Vesna. Dia membawanya berlari jauh sekali, dan berkali-kali bilang kalau mereka akan bahagia. Vesna lagi-lagi tidak mengatakan penolakannya. Dia bersikap seperti biasa, dan hanya mendengarkan janji-janji Vinter.

Di sisi lain, tanpa persetujuan raja, Violin membawa beberapa prajurit untuk mengejar saudara kembarnya. Dia mengepung Vinter di antara tebing-tebing batu merah. Waktu itulah Vesna langsung berlari dari Vinter, dan berdiri di balik punggung Violin. Dari sanalah Vinter tahu kalau Vesna sama sekali tidak menyukainya.

Karena marah, Vinter bertarung melawan Violin. Mereka berdua bertarung sangat sengit, dan tidak ada prajurit yang berani menahan. Di akhir pertarungan, Violin berhasil melukai Vinter, dan nyaris membunuhnya. Saat itulah muncul pria misterius yang menyelamatkan Vinter.

Raja Elaiva tiba di area pengepungan Vinter, dan sangat terkejut melihat orang misterius itu. Saat itu juga si pria misterius menghilang.

Vinter dibawa ke kerajaan, dan langsung diserbu dengan banyak pertanyaan dari ayahnya. Violin juga ada di sana untuk mengintimidasi saudara kembarnya. Dia memang punya kecenderungan untuk menjatuhkan Vinter dari dulu.

Violin benar-benar mengintimidasi saudaranya dengan mendatangkan Vesna, dan menanyakan apakah Vesna menyukai Vinter atau tidak. Jelas saja Vesna menjawab ‘tidak,’ dan itu membuat Vinter semakin hancur. Raja Elaiva mencium tindakan Violin yang kelewat batas itu, dan mencoba menghentikannya. Tapi Violin sudah terlalu jauh, dan tidak mau berhenti. Akibatnya, Vinter tidak tahan lagi. Dia berlari ke arah Violin, lalu menikamnya dengan sebuah pisau.

Vinter memutuskan pergi dari sana. Dia dihadang banyak sekali prajurit, tapi kemudian muncullah si pria misterius yang sebelumnya datang di tebing-tebing merah. Dia membantu Vinter pergi dari sana, dan mengajaknya berkelana di seluruh dunia.

 

Nama pria misterius itu adalah Dazel. Dia tak hanya membawa Vinter, tapi juga banyak sekali anak-anak yang kurang lebih bernasib sama sepertinya.

Dazel bukanlah pria baik. Dia memiliki kebencian teramat sangat pada raja-raja di seluruh negeri. Dia mendidik anak-anak yang dibawanya untuk menjadi pembunuh raja-raja. Aksinya dimulai dari melakukan banyak pembunuhan sempurna pada raja di negeri kecil, kemudian terus berkembang ke negeri-negeri yang lebih besar.

Vinter adalah salah satu pembunuh yang handal. Bersama Kazzak, pembunuh lainnya, dia membasmi raja-raja di banyak negeri.

Kelompok itu menjadi musuh utama semua bangsa. Mereka menjadi incaran nomor satu di mana-mana.

Suatu ketika, pengincar raja-raja sudah membunuh banyak sekali raja, dan tersisa dua yang terkuat. Raja Asgard dan Elaiva.

Mereka mengatur rencana untuk membunuh raja Elaiva, yang tak lain adalah ayah Vinter sendiri. Vinter tidak keberatan sama sekali ketika diperintah untuk mengeksekusi ayahnya. Di suatu hari, kelompok itu menyusup ke Elaiva. Sayangnya, kali ini pergerakan mereka sudah tercium. Mereka terjebak di Elaiva, dan terkepung tak bisa ke mana-mana. Tetapi, mereka melakukan perlawanan dan nyaris bisa lolos saat tiba-tiba datang prajurit dari Asgard yang mengepung di perbatasan.

Di detik-detik terakhir, Dazel melakukan tindakan dahsyat yang bisa memberi celah anggotanya untuk kabur. Berhasil, tapi dia sendiri tertangkap dan dibunuh raja Elaiva.

Violin ingin mengejar upaya kabur itu, tapi tidak diizinkan ayahnya. Menurut sang raja, kelompok itu sudah tamat. Tetapi, alasan yang sebenarnya adalah agar Vinter bisa bersembunyi, dan menyadari segala macam dosanya.

Di sisi lain, kelompok pengincar raja-raja tercerai berai. Mereka memutuskan berpisah, dan pergi ke arah masing-masing. Vinter sendiri sampai ke negeri tempat pelarian semua orang dari negeri jauh. Di sana, tak ada yang ingin tahu tentang masa lalunya. Semuanya menerima kedatangannya. Dia tinggal bersama wanita cantik penjual bunga bernama Lily. Bersama wanita itu, Vinter menjalani hari-hari yang sangat berbeda, dan jauh dari kesan dunianya yang dulu.

Vinter banyak bercerita pada Lily. Meski Lily tak ingin tahu masa lalu Vinter, tapi Vinter tetap menceritakannya. Awalnya Lily terkejut setelah tahu identitas Vinter, tapi lama-lama bisa menerimanya. Wanita itu juga memberikan saran agar Vinter mulai melupakan masa lalunya, dan berubah menjadi orang baru.

Hidup Vinter berubah. Dia sangat bahagia di kota kecil yang mirip reruntuhan itu. Dia bekerja sebagai pengantar bunga untuk Lily. Pelan-pelan, sifatnya yang dingin mulai berubah menjadi hangat. Dia sudah bisa tersenyum dengan tulus. Dia juga selalu menceritakan tentang rasa cintanya terhadap Vesna pada Lily, dan Lily selalu mendengarkan dengan baik.

Tahun-tahun damai berlalu di hidup Vinter. Dia benar-benar menjadi orang baru setelah ada di kota itu. Sampai suatu ketika saat dia mengantar bunga di malam hari, dia bertemu dengan Vesna. Dia sangat terkejut, tapi Vesna berbicara padanya sama seperti dulu, seolah tak terjadi apa-apa. Itulah yang membuat Vinter suka. Vesna sama sekali tidak mempermasalahkan siapa dia, dan seberapa banyak dosa yang dilakukannya dulu.

Tetapi, Vinter merasa dibodohi ketika tahu Vesna datang ke rumah Lily, dan tahu kalau ternyata Lily adalah kakak Vesna, yang berarti adalah putri pertama Asgard. Vinter pergi dari sana karena kesal. Sayangnya, di perjalanan dia justru dihadang sosok misterius yang mengincarnya. Untungnya dia bisa menghadapi sosok misterius, dan nyaris menguak misteri sosok itu, tapi si sosok misterius keburu melebur menjadi debu.

Lily menemukan Vinter saat pertarungan berakhir, dan menjelaskan semuanya. Awalnya Vinter hampir menjadi dirinya yang dulu. Dingin. Muram. Tak peduli pada apa pun, dan bermata tajam. Untungnya dengan kehangatan Lily, pemuda itu menjadi tenang lagi, dan mau mendengarkan semua penjelasannya.

Hari-hari Vinter setelah itu semakin menghangatkan. Dia menjadi dekat dengan Vesna, dan lagi-lagi merasa kalau Vesna menyukainya. Tetapi sayangnya hari-hari itu tidak lama. Suatu sore, datanglah orang-orang berjubah dan bertudung ke tempat Vinter. Mereka adalah Kazzak dan orang-orang pengincar raja yang sudah dibentuk lagi. Kazzak adalah pemimpin sekarang.

Mereka mengajak Vinter kembali, tapi Vinter menolak. Dia sudah tidak mau berhubungan dengan dunia itu lagi. Sayangnya, kata Kazzak, Vinter adalah yang terpenting dari semuanya, dan mutlak harus bergabung. Vinter tetap menolak, dan terjadilah pertarungan di sana. Vinter bisa saja mengalahkan mereka semua, kalau saja Vesna tidak disandera. Mau tak mau, Vinter mengikuti apa mau kelompok jahat itu.

Dia kembali ke markas mereka yang sudah lama ditinggalkan, dan mulai menyusun rencana. Sementara itu, Vesna dikurung di penjara menyedihkan di bawah tanah.

Vinter dengan malas mengikuti pertemuan yang dipimpin Kazzak. Inti pertemuan itu adalah untuk membunuh raja Elaiva dan Asgard. Saat itulah Vinter pergi dari sana, dengan alasan tak mau mendengar rencana, dan akan langsung mengikuti rencana yang sudah diputuskan nantinya. Sebenarnya, Vinter malah mendatangi penjara bawah tanah, dan menolong Vesna. Tindakannya ketahuan, dan terjadi pertarungan lagi. Dengan mudah, Vinter menaklukkan mereka semua, kemudian membawa Vesna kabur dari sana.

Vinter membawa Vesna pergi sangat jauh, seperti dulu saat menculik gadis itu. Mereka menyusuri hutan hujan yang lebat, dan di sanalah Vesna bilang kalau dia bisa saja menyukai Vinter, asalkan pemuda itu benar-benar mau meninggalkan masa lalunya. Vinter setuju. Kemudian, Vesna meminta agar mereka pergi ke Elaiva. Katanya, supaya Vinter memiliki perlindungan sekaligus benar-benar serius untuk berubah. Meski tidak mau, akhirnya Vinter tetap setuju. Dia membawa Vesna ke Elaiva.

Sayangnya, semuanya menjadi kacau lagi. Vinter dikepung begitu banyak prajurit Elaiva dan Asgard begitu hampir tiba di kampung halamannya. Vesna juga langsung berlari menjauh, menuju para prajurit itu. Saat itulah Vinter sadar sudah dikhianati. Sebenarnya mudah baginya untuk menghabisi semua pasukan itu. Hanya saja, dia mendengar Vesna berteriak kalau mereka adalah saudaranya. Supaya Vesna tambah puas, Vinter membiarkan dirinya dijerat para prajurit, dan disakiti habis-habisan. Setelah itu, dia dihadapkan ke raja Elaiva.

Betapa terkejutnya Vinter saat sadar kalau raja Elaiva bukan lagi ayahnya, melainkan Violin, saudara kembarnya sendiri. Pantas saja Vinter tidak melihat Violin di penangkapannya tadi.

Setelah mengintimidasi Vinter dengan kata-katanya yang menyakitkan, dan mengancamnya dengan berbagai hukuman, Violin malah meminta Vinter untuk menyusup ke kelompok Kazzak, dan menjebak mereka.

Vinter sama sekali tak tertarik dengan hal itu. Makanya, Violin memberi kesempatan Vinter untuk meminta penawaran. Vinter langsung meminta nyawa Violin sebagai ganti dari penyusupan ke kelompok Kazzak itu. Violin awalnya geram setengah mati, tapi kemudian bersedia. Dengan syarat, mereka akan bertarung kelak kalau Vinter ingin membunuhnya.

Vinter bersedia, lantas pergi ke markas Kazzak. Awalnya dia dihadang mati-matian, lalu dengan tipu muslihatnya, dia berlutut pada Kazzak, meminta ampunan. Kazzak terkena tipuan itu, dan memberi Vinter satu kesempatan untuk membuktikan kesetiaan.

Kazzak meminta Vinter membunuh ayahnya sendiri, raja Elaiva sebelumnya kata Kazzak, ayah Vinter itu ada di negeri yang sepi untuk menenangkan diri dari semua urusan negeri. Vinter bersedia, dan mulai berjalan mencari ayahnya di negeri jauh.

Singkat cerita, Vinter nyaris membunuh ayahnya. Dia malah terkejut saat ayahnya itu sama sekali tidak keberatan, justru mempersilakannya. Yang lebih mengejutkan lagi, ayahnya tiba-tiba berkata kalau semua tindakan Kazzak adalah benar. Dia bisa melihat kebenaran dari sudut pandang yang lain. Dia juga mengatakan tentang Dazel yang menjadi pencetus kelompok itu.

Menurut ayah Vinter, memang benar semua raja dan keturunan laki-laki harus dibunuh agar tidak ada lagi yang memiliki ingatan mightium (akan dijelaskan di lampiran satu) dan itu termasuk Kazzak dan semua kelompoknya. Harus benar-benar dihabisi semua.

Vinter meminta penjelasan lebih jauh, tapi ayahnya menolak. Katanya, saat semuanya sudah akan berakhir, dia akan tahu semuanya. Maka Vinter langsung membunuh ayahnya itu.

Kazzak tidak meragukan Vinter lagi. Kemudian, dia dan semua kelompoknya pergi ke Asgard untuk membunuh raja. Sayangnya, begitu mereka sampai, mereka langsung dikepung ratusan prajurit dari Asgard dan Elaiva. Vinter langsung bergabung ke para prajurit, dan langsung membantai Kazzak dan kelompoknya.

Pertarungan hebat terjadi, tapi kelompok Kazzak tak mudah dikalahkan begitu saja. Vinter langsung menghadapi Kazzak. Mereka bertarung habis-habisan, saling membenci satu sama lain.

Vinter selalu lebih unggul dari Kazzak. Dia nyaris membunuhnya, saat Kazzak menceritakan semua alasan pembunuhan raja-raja. Vinter mendengarkan baik-baik, dan terkejut mengetahui alasannya. Menurut Kazzak, raja-raja dan semua keturunannya harus dibunuh agar ingatan para mightium tidak berlanjut. Karena, jika ingatan makhluk legenda di zaman dahulu itu terus menurun, suatu ketika ambisi para mightium akan menguasai sepenuhnya raja-raja, dan era mightium yang mengerikan akan terulang lagi.

Vinter membunuh Kazzak. Kemudian, dia mencari Violin. Kazzak benar, semua raja harus dibunuh. Dia bertarung dengan Violin, tapi kalah. Dia pingsan.

Saat sadar, Vinter sedang ada di balairung Asgard. Di sana ada Violin, Vesna, Lily, dan raja Asgard. Lagi-lagi, Violin mengintimidasinya dengan kata-kata yang menyakitkan.

Mendapat kesempatan baik, Vinter menerjang leher Violin dengan pisau, lalu melancarkan peluru panasnya ke kepala raja Asgard. Saat semuanya panik, dia pergi jauh-jauh dari sana, meninggalkan semuanya. Dia masih tak punya keberanian untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Kemudian, di tahun-tahun ke depan, jejak Vinter sama sekali tidak terdengar.

 

-lampiran 1

Dulu dunia dipenuhi makhluk semacam naga bernama mightium. Mereka merajalela, dan memperbudak manusia. Era itu disebut era mightium. Di mana semuanya sangat panas, kejam, dan penuh kekejaman.

Berawal dari inginnya perubahan, datang orang-orang hebat dari seluruh negeri. Mereka bersatu, menjadi para pemburu. Intinya, suatu ketika mereka berhasil membasmi para mightium. Dua mightium agung dibunuh di dua negeri yang kelak bernama Asgard dan Elaiva. dua yang agung dibasmi, tapi ingatan mereka berupa jiwa dan kemarahan menjelma ke dalam tubuh para pemburu. Kemudian, para pemburu kembali ke negeri masing-masing. Mereka diangkat menjadi raja karena sudah sangat berjasa.

Yang belum mereka tahu, kelak semua keturunan laki-laki mereka akan memiliki ingatan mightium, memiliki kekuatan dahsyat, dan memiliki ambisi untuk membangkitkan kejayaan era mightium sekali lagi. Setelah berlalu ratusan tahun, Dazel Danette, salah satu pemilik ingatan mightium tahu misteri kelam itu. Dia memutuskan untuk memutus rantai keturunan ingatan mightium agar dunia tidak kembali ke era menyedihkan itu lagi kelak. Dia rela dibenci dan dikutuk semua orang dengan membunuh raja-raja demi memutus rantai ingatan mightium. So… dia jahat tidak sih?

 

-lampiran 2

Setting cerita ini ada di negeri bernama Asgard dan Elaiva. Asgard adalah negeri yang melayang di udara. Dulu, kekuatan mightium agung yang membuatnya menentang gravitasi. Tapi seiring waktu, kekuatan itu menipis. Agar tidak jatuh, orang-orang hebat membangun teknologi canggih yang bisa membuat negeri itu tetap melawan gravitasi. Sementara itu, negeri Elaiva adalah kebalikannya. Negeri itu ada di celah jurang yang sangat besar melingkar. Konon lokasinya sendiri lebih rendah puluhan meter dari permukaan air laut. Teknologi di sana juga sangat canggih.

Teknologi yang dimaksud di atas adalah jalan raya lebar, jembatan-jembatan layang, mobil terbang, pesawat mirip naga, tentara berzirah robotik, gedung-gedung pencakar langit, dan teknologi lainnya. Jadi, ini hampir mirip scie-fi.