Dandelion Kecil

-Dandelion Kecil-

Oleh : Erclai R. Violin

Kehidupan itu… anugerah kecil yang indah bagi kami. Anugerah yang sangat rapuh, dan mudah direnggut oleh siapa pun. Indah, karena kami dapat berbagi cerita tentang hari-hari ceria yang hangat. Rapuh, karena setiap saat banyak dari kami yang menghilang hanya dalam beberapa hari. Kadang, bahkan kerapuhan itu membuat kami hanya hidup dalam beberapa jam.

Embusan angin mampu menerbangkan kami. Kadang, tangan-tangan besar memetik seenaknya, dan memisahkan kami satu sama lain. Hujan juga salah satu perenggut kehidupan yang sangat rapuh ini.

Itulah anugerah kehidupan. Yang singkat, yang rapuh, yang begitu saja dilupakan. Begitulah anugerah yang kami terima. Kami adalah… bunga-bunga dandelion kecil. Yang rapuh, yang kerap terabaikan, dan yang kadang direnggut begitu saja.

Aku adalah bunga kecil yang hidup di lereng pegunungan berkabut. Terlahir seorang diri, tanpa saudara sama sekali. Bunga-bunga lain sudah menghilang ketika aku mekar, meninggalkanku sendirian di tempat yang sangat dingin ini.

Sebenarnya, aku punya banyak kehidupan. Berpindah dari satu tangkai ke tangkai lain. Setiap kali angin meniup, kelopakku akan beterbangan jauh sekali, mengelilingi bukit-bukit hijau, dan terdampar di berbagai tempat. Itulah ketika kehidupanku yang rapuh terenggut. Benar… hanya kehidupan, namun tidak untuk memori. Salah satu kelopakku, memiliki kenangan kuat tentang kehidupanku. Saat dia tumbuh menjadi bunga yang cantik, aku hidup dalam dirinya. Dan, begitulah seterusnya.

Di salah satu kehidupanku, aku ingat pernah mekar di daerah yang sangat indah. Aku mekar dikelilingi bukit-bukit hijau yang sangat luas, membentang sejauh aku bisa merasakannya. Iya, merasakan. Aku hanya bisa melihat menggunakan apa yang angin sepoi-sepoi bisikkan padaku.

Di sana, aku lagi-lagi sendirian, tanpa bunga lain yang mendampingiku. Sebenarnya, tak penting juga apakah aku memiliki pendamping atau tidak. Hanya saja, kurasa memiliki seorang teman bisa membuat hari-hari sunyiku lebih menyenangkan. Saling berbisik satu sama lain melalui desauan angin yang teramat pelan.

Hingga suatu ketika, aku merasa angin membelaiku dengan sangat lembut, dan dia membawa sesuatu. Yeah… sesuatu. Aku sama sekali tidak menyangka kalau yang dibawanya adalah sebuah kelopak dandelion kecil. Bunga rapuh yang baru saja merelakan kehidupannya. Entah dia membawa kenangan sebelumnya atau tidak. Aku tak peduli, dan juga tidak mau peduli.

Bunga itu… dia mulai mekar saat pagi akan datang. Aku sangat senang ketika kelopaknya melambai-lambai tertiup desauan angin pelan.

“Selamat datang, bunga kecil!” sapaku waktu itu. Kulihat dia mulai beradaptasi dengan suasana di tempat ini, kemudian dia seperti menoleh kepadaku melalui bantuan angin.

“Ah, hey! Kamu siapa?” tanya bunga kecil itu. Sepertinya, dia tidak mewarisi ingatan di kehidupan sebelumnya, karena tampak sekali dia heran padaku. Tapi, aku juga tidak tahu pasti. Toh aku juga tidak pernah bertemu dengan bunga lain saat aku mekar.

“Aku sama sepertimu. Sebuah bunga dandelion yang kecil. Selamat datang di dunia ini. Kamu dianugerahi sebuah kehidupan yang rapuh. Karena itu, kamu harus menjaganya baik-baik!” aku ingat pernah mendengar ucapan itu, tapi entah kapan. Sepertinya sudah sangat jauh di masa lalu. Entah mengapa juga aku bisa langsung mengingatnya begitu melihat bunga yang hanya selisih satu hari dari kedatanganku itu.

Bunga itu nampaknya tersenyum senang mendengar ucapanku. Dan, tak tahu mengapa, ada sesuatu di ranting-ranting kelopakku yang merasa nyaman melihat senyuman itu.

“Apa kamu… sendirian?”

Lagi-lagi aku merasa hangat ketika mendengar suaranya. Jadi… inilah rasanya memiliki pendamping. Betapa tidak beruntungnya aku telah mekar sendirian di sebagian besar kehidupanku. “Tidak, bunga kecil. Sekarang ada kamu di sebelahku,”

Dan lagi. Bunga kecil itu tersenyum padaku, tepat ketika angin menerpa kami, dan membuat kami melambai-lambai dengan pelan. Waktu itu, aku benar-benar paham apa arti kehangatan yang sebenarnya. Setelah sekian lama hanya berdiam dan melambai-lambai diterpa angin sepoi, kini aku memiliki kawan untuk menghabiskan waktu. Mengakhiri jam demi jam yang sangat menenangkan.

“Emm… apa kita berteman?” tanya bunga kecil itu dengan polosnya.

Entah karena tertiup angin atau aku melakukannya sendiri, aku seperti mengangguk. “Iya. Terima kasih telah hadir di kehidupan ini, ya!”

Bunga itu… entah mengapa kali ini dia terdiam cukup lama, sampai beberapa kali tiupan angin yang damai. Karena itu, aku heran padanya. Apa mungkin angin membisikkan kalimat yang salah, yang tidak seperti pikiranku?

“Kehidupan itu… apa?” tanya bunga itu tiba-tiba, tersadar dari lamunan panjangnya.

Aku lumayan terkejut mendengar suara itu. Angin berbisik sangat pelan, menyampaikan pikiran dari bunga yang ada di sebelahku. Jadi benar, kalau dia memang tidak mewarisi ingatan tentang kehidupan yang lalu.

“Kehidupan itu… hanyalah kenangan yang akan berlalu begitu saja,” kataku, mencoba menjelaskan dengan sangat lembut. Angin juga memerankan perannya dengan baik, dan berhasil mengantar pikiranku ke bunga kecil itu. “Hanya beberapa saat, kita akan kehilangan kenangan ini. Tetapi, setelah kehidupanmu direnggut, salah satu kelopakmu akan mekar, dan memiliki kenangan yang sama. Kau akan lahir kembali di tempat yang sangat berbeda,”

“Apa aku akan melihatmu lagi nantinya?” tanya bunga kecil itu tiba-tiba. “Apa ketika aku pergi nanti, dan mekar di tempat lain, aku akan melihatmu lagi seperti tadi? Apa kamu akan menyambutku seperti tadi?”

Iya. Saat ini aku benar-benar berharap bisa mengatakan iya. Aku sangat ingin menyapanya ketika dia mekar di kehidupan lainnya. Padahal, baru beberapa saat lalu aku mengenalnya. Tetapi, mungkin karena dia sahabat pertamaku, aku sangat menyayanginya dari detik pertama dia datang. “Dengar, bunga kecil,” kataku pelan, dan bunga kecil itu menurut. Dia diam, dan mencoba mendengarkanku. “Kehidupan adalah kenangan, seperti yang kukatakan tadi. Tak peduli kita akan bertemu lagi atau tidak di kemudian hari, yang terpenting adalah saat kita mengingat kenangan hari ini.”

“Itu kedengarannya seperti…” kata bunga itu. Entah angin yang pelan atau memang bunga itu yang bersuara pelan, tapi suaranya kurasakan sangat murung. “Kita tidak akan bertemu lagi,”

Setelah dia, kini giliranku yang berdiam selama beberapa kali tiupan angin. Ketika mendengar suaranya, entah mengapa aku juga merasa kehilangan. Padahal, hey. Kami baru saja bertemu, dan masih banyak yang bisa dibicarakan selain kemungkinan kami terpisahkan di kehidupan nanti.

“Bunga kecil!” panggilku lembut, dan dia mendengarkan seperti sebelumnya. “Jangan memikirkan apa-apa lagi mengenai kemungkinan itu. Sekarang, lebih baik kita bercengkerama mengenai hal-hal bahagia yang bisa kita lakukan saat bersama. Itu lebih menyenangkan daripada kita hanya bersedih,”

Aku bersyukur ketika bunga itu terlihat mengangguk. Sebenarnya, aku sendiri khawatir dengan kemungkinan yang kami bahas tadi itu. Aku tidak mau lagi merasakan mekar di antara kesendirian, tanpa ada siapa pun yang menyambutku. Aku tidak mau lagi merasakan betapa dinginnya angin berembus saat aku berdiam tanpa bunga lain di sebelahku, setelah aku menemukan sahabat seperti bunga itu.

Semenjak itu, aku sangat bahagia. Setiap embusan angin pelan yang menyentuh kami, semuanya membawakan kehangatan yang sangat nyaman antara aku dan bunga itu. Kami, merasa memiliki satu sama lain, terikat erat di antara kerapuhan hidup yang membayang-bayangi kebahagiaan ini.

Hari ini, semuanya berlalu dengan sangat cepat. Aku benar-benar merasa semuanya berkelebat begitu saja ketika bunga itu berbicara dengan lembut, dan membuatku merasa hangat. Padahal, aku sangat ingin semuanya berlangsung dengan selambat mungkin, agar kenangan dengannya bisa kunikmati tiap detiknya, tiap menitnya, dan tiap kali angin berembus melambaikan kami berdua.

Kami berdua melanjutkan kehangatan ini. Meski malam sangat gelap dan dingin, aku tak rela melepas kenangan ini hanya untuk tertidur. Yang kutakutkan, kalau-kalau aku bangun esok pagi, tubuhku sudah sangat rapuh, dan kehidupanku akan segera berakhir, berganti ke kehidupan selanjutnya.

Hingga malam berakhir, tak ada sama sekali di antara aku atau bunga kecil ini yang tertidur. Atau… sekarang dia bukan lagi bunga kecil. Waktu yang sangat singkat ini telah mengubahnya menjadi bunga yang sama sepertiku. Kami… benar-benar mirip saat ini.

“Apa kau atau aku?” tanya bunga di sebelahku tiba-tiba, ketika matahari hampir terlihat di puncak-puncak pegunungan. Suaranya sudah berubah, tidak polos atau lugu seperti beberapa waktu lalu. Suaranya kali ini… terdengar sangat dewasa.

“Maksudmu?” tanyaku lembut. Sebenarnya, aku sudah tahu ke mana percakapan ini akan sampai, dan itulah yang paling aku takutkan. Setelah sekian waktu menghabiskan masa-masa hangat, kini pembicaraan menyebalkan itu akan terulang lagi.

“Apakah kau yang akan pergi, atau aku yang akan pergi? Maksudku… yang lebih dulu,”

Benar saja. Dia benar-benar mengulang masalah itu lagi. Suaranya yang pelan, membuat kehangatan yang kami bangun sejak lama, kini mulai terkikis. “Tentu saja… aku. Mungkin!”

Seperti dugaanku, bunga itu diam selama beberapa desauan angin, dan keheningan yang terjadi selama itu benar-benar membuat seluruh bunga yang kumiliki menjadi resah.

“Apa sedingin itu? Apa benar sendiri itu sangat dingin?”

Dasar. Kenapa dia harus menanyakannya? Aku tidak mau… mengatakan apa yang selama ini kurasakan. Aku tidak mau… dia merasakan apa yang kurasakan selama ini. “Tidak sedingin itu,”

Jelas-jelas dia tahu aku berbohong. Angin benar-benar buruk kalau menyampaikan kebohongan yang kupikirkan itu. Karenanya… bunga di sebelahku itu terlihat lebih murung.

“Kau baru saja mengatakan kalau bahkan lebih dingin lagi,” kali ini suaranya terdengar sangat keras. Lagi-lagi aku mengutuki angin yang dengan lancar membisikkan pikiran bunga itu.

“Aku akan… menunggumu lagi,” kataku saat bunga di sebelahku terdiam untuk ke sekian kalinya. “Di kehidupanku yang lalu, aku dengan mudah melepas kehidupan rapuh ini, tanpa pernah menginginkan kehidupan yang sangat hangat seperti sekarang. Tetapi sekarang… aku memiliki alasan untuk berharap bahwa kita akan bertemu lagi di kehidupan yang lain. Aku akan menyambutmu yang mekar di dekatku, seperti waktu itu,”

“Bagaimana kalau itu semua hanya… harapan sia-sia? Apa ada kemungkinan untuk kita bertemu lagi nantinya?”

“Mengapa tidak?” tanyaku sebelum dia mengeluh lebih jauh lagi. “Kita dipertemukan di kehidupan dengan begitu saja, dan di kehidupan lainnya juga… akan begitu. Dipertemukan begitu saja,”

Setelah itu, kami mencoba mengabaikan masalah itu lagi. Matahari sudah menyentuhkan sinarnya yang hangat, membuatku merasa sangat nyaman. Paling tidak, kalau hari ini kehidupanku harus benar-benar terenggut, aku sudah sangat siap.

Tubuhku sudah sangat lemah ketika matahari semakin meninggi, dan beberapa kelopakku mulai bergetar karena tertiup angin yang lumayan kencang.

“Tunggu! Bagaimana aku tahu itu kau saat kita bertemu nanti?” tanya bunga di sebelahku itu. Dari suaranya yang tinggi dan keras, sangat jelas kalau dia khawatir tentang kehidupan yang selanjutnya. Sepertinya dia… ketakutan.

Jujur aku bingung harus menjawab seperti apa? Dan dia benar. Aku sama sekali takkan tahu, sebagaimana dia takkan tahu kalau bunga yang menyambutnya kelak adalah aku atau bukan.

Aku belum sempat menjawab apa-apa saat tanah terasa berguncang. Setelah itu, teriakan-teriakan ribut juga terdengar dari belakang sana. Sekilas, angin mengabarkan tentang hadirnya anak-anak manusia yang mendekat.

“Heh, jangan terlalu jauh!”

Kudengar suara itu dari kejauhan. Sepertinya mereka memang anak-anak yang masih sangat kecil.

“Kakak, bunga dandelion itu bagus!”

Tanpa sempat berkata apa-apa, sebuah tangan anak perempuan telah memetik bunga di sebelahku. Bunga yang masih memiliki waktu untuk hidup. “Tidak, jangan dia!”

“Jangan meniupnya. Dia masih sangat segar, dan belum boleh ditiup!” teriak anak yang satunya lagi, dan aku seratus persen mendukungnya.

Tetapi, nyatanya teriakan itu tidak diperhatikan. Anak perempuan itu tertawa-tawa, dan bersiap meniup bunga itu. Di sisi lain, bunga-bunga di tubuhku mulai terlepas, tertiup angin yang sangat kencang.

“Aku… panggil saja aku Vrey! Kelak kita akan bertemu lagi!”

Hanya itu. Aku hanya bisa membisikkan teriakan itu ketika kelopak bunga di tubuhku berhamburan menjauh, dan tepat juga ketika anak perempuan di sana meniup bunga dandelion yang belum waktunya ditiup itu. Kemudian, mungkin kelopak kami terbang bersamaan, tertiup angin yang sangat kencang, terempas ke berbagai arah, dan saling terpisah. Aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa waktu itu. Hanya ada kilasan-kilasan memori tentang kebersamaanku dengan bunga itu. Bunga yang melebur bersamaku.

 

*-*-*-*

Advertisements

2 thoughts on “Dandelion Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s