Tale of Winter

“Semua hal di dunia ini memiliki kehidupan. Bahkan bagi hal-hal yang kelihatannya mati sekalipun. Ada kehidupan rapuh yang dimiliki mereka, dan dijaga dengan sepenuh hati.

Begitu juga tentang musim.

Benar. Musim.

Semua musim memiliki kehidupan singkat dan sangat rapuh.

Mereka akan dibawa oleh penjaga ke sebuah dunia dalam wujud menyerupai manusia, kemudian selama waktu yang ditentukan akan mengawasi dunia itu.

Barulah sang penjaga akan meleburkan wujud manusia sang musim menjadi musim sejati yang menaungi dunia itu.

Mereka yang berhasil, akan abadi dan silih berganti dengan musim-musim lain.

Mereka yang gagal akan jatuh ke tangan malaikat, dan dileburkan menjadi manusia di dunia lain. Menjalani kehidupan fana, dan lupa sama sekali tentang dirinya di masa lalu.”

Vinter, Sang penjaga Musim.

 

 

-puisi pertama-

 

          Aku tak mau tahu bagaimana hari-hari tanpa senyuman lembutmu.

Aku juga tak mau tahu seberapa dingin udara musim ini saat aku tak lagi memelukmu.

Aku ingin terus di sini, di sampingmu…

Membuatkan puisi, menggenggam erat jemarimu, membelai wajah birumu yang kedinginan oleh salju, dan memelukmu saat dingin datang.

Aku tak ingin kau merasa dingin, aku ingin kau tetap merasa hangat dalam dekapan eratku.

Aku bisa saja membuatkanmu ratusan puisi indah yang takkan kuberikan kepada siapa pun kecuali dikau. Aku bisa saja terus mencium keningmu saat kau merasa takut akan kegelapan.

Aku tak akan memaksamu untuk memahaminya.

Untuk memahami sebuah rasa yang ada di hatiku.

Rasa yang begitu hangat.

Tapi aku akan terus menunggu, sampai pada akhirnya kau memahaminya.

Entah kapanpun waktu itu tiba.

Setahun lagi?… dua tahun? sepuluh tahun?… Lima puluh tahun?…

Ah… selama itulah aku akan mencoba menunggu.

Temanku,….

Salju ini akan membantuku menimbun rasa ini.

Tapi pada akhirnya,…

Toh salju ini juga akan hilang.

Saat surya muncul dan memberi kehangatan.

Saat aku tak perlu lagi mendekapmu.

Saat aku tak perlu lagi mengecup keningmu.

Saat aku tak lagi…. membuat puisi indah untukmu.

Tapi aku benci surya.

Lebih tepatnya… aku benci saat kau tak lagi membutuhkan dekapanku untuk mengusir dingin.

Saat aku tak bisa lagi mengecup keningmu,

Dan saat…..

Sial…

Aku tak mau berhenti menulis puisi untukmu.

Aku ingin terus melakukannya.

Karena itulah sebaiknya musim dingin ini abadi.

Kuharap surya takkan pernah muncul lagi.

Agar perlakuanku kepadamu itu juga abadi…

Agar rasa hangat di hatiku ini terus terpendam salju, dan mengabadi dalam kebekuan.

Itu lebih baik Kan?[1]

 

-Violin

 

 

 

 

 

 

 

-Goresan Pertama-

(Elegi Masa Lalu)

 

Suatu kota bernama Ether.

Siang itu salju mengguyur seluruh kota Ether[2]. Setelah semalaman penuh berjatuhan dari langit yang suram, kini semua sudut kota berwarna putih dengan tumpukan salju banyak sekali, seperti di negeri dongeng. Lalu-lintas terlihat senggang. Jalanan menjadi licin, dan hanya ada beberapa mobil yang melintas dengan lambat. Siang itu memang sudah diramalkan akan turun salju yang sangat banyak, bahkan lebih banyak ketimbang hari-hari sebelumnya. Salju bisa sampai menenggelamkan setengah tinggi rumah yang tidak terlalu tinggi.

Karena peristiwa itu, sangat sedikit orang yang beraktivitas di luar hari. Mereka lebih memilih berdiam di rumah berkumpul bersama keluarga, dan menghangatkan diri di dekat perapian sambil minum teh hangat.

Tetapi, seperti tak acuh dengan kondisi itu, seorang remaja dengan pakaian sangat tebal berjalan di jalan setapak yang sudah tertimbun salju, di sekitar kawasan pepohonan. Remaja pria itu berjalan pelan sambil membaca sebuah buku kusam yang sampulnya sudah penuh plaster. Sesekali, dia membetulkan letak kacamatanya yang agak turun.

Seperti biasa, karena terlalu fokus pada apa yang dia baca, remaja itu hampir menabrak seseorang di depannya. Tapi, mungkin karena sudah kebiasaan atau apa, dia langsung menyingkir ke samping, lalu berjalan lagi ke depan. Sama sekali tidak acuh pada orang yang hampir ditabraknya. Tanpa minta maaf sama sekali.

“Riyan, hey!”

Langkah si pembaca buku terhenti seketika. Entah kenapa begitu mendengar suara itu, ada sesuatu di benaknya yang melayang ke masa lalu. Menuntut suatu celah kosong yang ada di hatinya. “Suara itu?” baru saja dia menolehkan kepala ke belakang, dia langsung disambut senyuman hangat dari gadis di belakangnya. Benar. Senyuman itu sangat hangat, sampai-sampai dinginnya salju sama sekali tak terasa.

“Kemana saja hari ini? Kenapa bolos sekolah?” tanya gadis berambut hitam sedagu itu. Dia memakai pakaian tak kalah tebal dengan yang dipakai remaja pembaca buku itu. Atau tadi disebut namanya Riyan.

“Aku… tidak berani keluar saat salju turun sederas itu. Kupikir sekolah akan diliburkan,” timpal Riyan dengan pelan. Tak biasanya, dengan mudah dia bisa menutup buku di tangannya, dan fokus menatap gadis yang sedang keheranan di depannya.

“Aneh,” kata gadis itu.

“Aneh?” tanya Riyan tak mengerti.

Gadis itu mengangguk sambil memasang senyuman lagi. Sangat lembut dan hangat. Mungkin itu yang bisa membuat Riyan lepas dari bukunya. Senyuman yang mengalahkan semua imajinasinya. Sesuatu yang takkan mungkin dia dapat dari siapa pun selain gadis di depannya itu.

“Kau yang aneh!” sebisa mungkin Riyan memalingkan wajahnya. Mencoba bersikap seperti biasanya. Tidak acuh pada hal-hal kecil. Kemudian, dia mulai berjalan menjauh. Meski ada rasa getir saat meninggalkan gadis itu, dia tetap berjalan. Menembus salju yang tiba-tiba terasa lebih dingin dari sebelumnya.

“Kau aneh. Katamu tidak masuk sekolah karena takut dengan salju. Tapi apa yang sedang kaulakukan? Berjalan sendirian di antara salju yang bahkan lebih deras dari tadi pagi!” teriak gadis itu keras-keras sampai membuat Riyan kembali berhenti berjalan.

Hal yang paling dibenci Riyan adalah ketika ada orang yang bisa menarik perhatiannya. Apalagi sampai bisa membuatnya berhenti berjalan untuk dua kali di waktu yang relatif cepat. Tetapi dalam kasusnya kini, dia sama sekali tidak membenci si pelaku. Melainkan membenci dirinya sendiri yang tampak seperti orang bodoh. Setidaknya baginya sendiri.

Riyan sudah menghela napas ingin membalas ucapan gadis di belakang sana. Kata-katanya sudah mau keluar, tapi mendadak dia membuang semuanya dalam desahan panjang. Entah kenapa dia tidak mau, atau mungkin tidak bisa menyangkal kata-kata gadis itu. Karenanya, dia melanjutkan langkah. Sebisa mungkin agar cepat, dan tidak berhenti ketiga kalinya karena suara gadis itu.

Awalnya, Riyan merasa lega karena bisa terbebas dari rasa gelisahnya tentang gadis itu. Remaja berambut hitam tersisir ke dahi kiri itu berjalan semakin pelan begitu melewati sebuah perempatan jalan. Tetapi mendadak dia merasa ada yang hilang. Bukan benda atau sejenisnya. Melainkan sesuatu di hatinya seperti kehilangan celah kecil yang membuatnya merasa kosong. Mungkin tentang gadis adik kelasnya tadi. Tapi… sepertinya bukan. Ada sesuatu yang jauh lebih membuatnya merasa kosong ketimbang gadis tadi. Sesuatu dari masa yang sudah berlalu. Sudah sangat lama.

“V-Vi…” gumam remaja itu dengan bibir bergetar. Pandangannya lama-lama mulai buyar, dan seperti tersisipi gambaran dari sesuatu yang sangat jauh. “Vi… Violin! Akhh!!!” dia jatuh berlutut sambil memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut pusing. Saat itulah dia bisa mendengar suara tangisan pelan dari seseorang. Dari seseorang di masa lalu. Melalui tangisan itu, entah kenapa dia merasakan kesedihan. Seperti kesedihan yang memicu suara tangisan yang dia dengar. Kepedihan… atau lebih tepatnya ketakutan karena sesuatu.

Tangisan itu sangat tidak asing baginya. Dia begitu memahami isi tangisan itu, bahkan merasakan ketakutan yang sama dengan si pemilik tangisan. Bagaimana pun, Riyan tahu betul kalau suara tangisannya itu adalah tangisannya sendiri. Setidaknya dia sudah sangat sering mendengarnya sebelum ini. Bahkan lebih jelas. Hanya saja dia sangat benci kalau hal ini terjadi di tempat terbuka, di mana semua orang bisa melihatnya seperti orang aneh.

“Akh… tidak! Jangan di… sini!”

Terlambat. Remaja itu sudah terlempar jauh sekali ke alam bawah sadarnya. Menembus tirai-tirai cahaya indah yang meneduhkan, lalu terjejal ke tempat lain. Tunggu! Tidak ke tempat lain sama sekali. Dia masih berada di sana. Di kota Ether yang diguyur salju sangat deras. Hanya saja… tidak di waktu yang sama. Setidaknya Riyan sudah lupa sama sekali tentang siapa dirinya saat itu. Lupa bagaimana dia bisa terlempar ke sana. Baginya, saat itu adalah kebenaran yang memang benar-benar terjadi.

*-*-*-*

Delapan tahun yang lalu…

Aku merasakannya…

saat rasa dingin yang membekukanku ini semakin parah…

kau datang dengan kehangatanmu,…

dan membantuku menemukan harapan.

 

Pagi itu, salju berjatuhan sangat deras. Awal musim dingin yang akan sangat panjang. Salju melayang tak karuan di udara yang dingin, lalu berjatuhan di jalanan. Kota Ether terasa sangat sepi tanpa aktivitas penduduknya. Hanya ada satu orang yang terlihat di kota itu. Maksudnya satu anak kecil. Di sudut jalan yang dingin, di bawah pohon yang daun-daunnya berganti menjadi salju yang putih. Anak laki-laki itu berjongkok sambil memeluk lututnya. Menyembunyikan wajahnya. Sepertinya dia juga menangis. Sesekali bahunya terlihat bergetar, dan terdengar isakkan pelan.

Tidak. Anak itu tidak sendirian. Di ujung jalan, ada anak lain yang sebaya dengannya. Anak perempuan dengan pakaian yang tebal. Mungkin karena penasaran, dia berjalan mendekati bocah yang duduk di bawah pohon itu. Dengan langkah riangnya, dia mendekat, dan berhenti di depan bocah itu.

“Kamu kenapa?” tanyanya dengan suara polos.

Mendengar suara yang sangat lembut itu, bocah yang menangis mengangkat kepalanya. Dengan matanya yang sembab karena airmata, dia bisa melihat gadis seusianya yang berdiri keheranan. Gadis itu juga memakai topi wol yang kelihatan sangat hangat. Cantik sekali. “Siapa?”

“Aku?” gadis cilik itu balas bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Kemudian dia malah senyam-senyum sendiri. “Namaku Riyan, hehe!” dia berjongkok di depan si bocah sambil tersenyum lembut sekali. Sesuatu yang terlihat sangat menghangatkan.

“Ah!”

“Aku bercanda. Itu namamu, kan? Namamu Riyan, kan?” kata gadis itu sambil mengusap-usap rambut belakangnya.

“Bagaimana kau…”

“Um. Kamu tau? Selama ini aku mengawasimu. Aku memperhatikanmu dari tempat yang tidak bisa kaulihat,”

“Bohong!” balas Riyan tidak mau percaya. “Mana mungkin bisa?”

“Bisa kok!” gadis itu mengangguk. “Tapi dianggap bohong juga tidak masalah. Yang penting… aku tidak suka dengan Riyan yang selalu menangis. Aku suka dengan Riyan yang ceria dan selalu tersenyum. Yang tidak takut pada apa pun!”

“Oh, aku…” balas Riyan malas sambil menundukkan kepalanya. “Aku tidak bisa seperti itu. Aku tidak bisa tersenyum. Bahkan menjadi sangat penakut. Lalu… setelah itu pasti menangis. Kadang bahkan tanpa sebab aku bisa menangis. Seperti orang aneh!”

“Enggg!” gadis manis itu menggeleng cepat-cepat. “Kau tau? Apa pun masalah yang membuatmu menangis itu… adalah yang akan membangkitkanmu. Kelak kalau kau menangis karena ketakutan, justru kau akan menertawakan ketakutanmu itu. Tidak akan takut lagi. Lihat, bunga selalu tumbuh sesudah hujan reda, kan?”

“Bunga?” Riyan mengangkat kepalanya, menatap gadis kecil di depannya itu.

“Um. Kalau kamu sedih, itu seperti sedang hujan. Lalu, setelah hujan reda akan muncul bunga. Bunga itu indah, kan? Sama juga dengan kamu. Kalau kamu menangis, nanti setelah itu pasti akan muncul kebahagiaan.” Kemudian, gadis itu berdiri. Gadis berwajah biru pucat karena kedinginan, tapi terlihat cantik bagi Riyan. Saat itulah gadis itu melepas topi wolnya.

“Aku…” Riyan baru mau mengatakan sesuatu, tapi mendadak berhenti. Dia sangat terkejut saat gadis di depannya memakaikan topi wol di kepalanya. Hangat. Rasanya sangat hangat, apalagi saat gadis itu juga tersenyum setelah memberikan topinya.

“Kamu pulang ya! Mama dan papamu pasti khawatir. Apalagi salju akan semakin tebal!” kata gadis itu.

“Ah!”

“Aku juga akan pulang, Riyan. Kamu jangan menangis lagi ya! Eh tidak. Menangis tidak apa-apa, asalkan setelah itu kamu tersenyum, ya!” gadis itu mengusap-usap rambutnya yang mulai dipenuhi salju. “Oh ya, kau tau, namaku itu Firelia. Itu sama dengan nama tokoh dongeng yang diceritakan mamaku. Firelia punya teman baik loh, namanya Violin. Kamu mau ya, jadi Violin!”[3] sambungnya sambil tersenyum.

“Vi-Violin?” tanya Riyan heran. Dia tidak mengerti sama sekali tentang ucapan gadis di depannya itu.

“Um. Kamu itu Violin. Aku itu Firelia. Kelak, kita akan bertemu lagi. Seperti dongeng itu. Saat ini kamu pasti tidak tau apa-apa. Tapi kelak kamu akan tau semuanya. Tentang kita berdua. Maksudnya Violin dan Firelia!”

Kemudian, hanya sampai di sana. Setelah itu, gadis bernama Firelia itu memberikan senyuman terakhirnya. Pelan-pelan, dia berjalan menjauh. Menembus salju yang semakin deras. Meninggalkan Riyan yang masih bertanya-tanya tentang semua itu. Tetapi ada hal yang benar-benar diketahui bocah itu. Ya. Dia merasa sangat nyaman setiap kali mendengar suara gadis itu. Setiap kali melihat senyuman polos yang sangat manis itu.

“Fi… Firelia!” panggil Riyan pelan. Bukan memanggil sebenarnya. Tepatnya mengingat-ingat nama gadis itu. Gadis yang punggungnya mulai samar karena jarak pandang yang semakin jauh. Gadis yang membuatnya merasa sangat nyaman. Berharap kalau dalam waktu dekat ini gadis mengagumkan itu akan kembali lagi.

Tetapi nyatanya… selama apa pun Riyan menunggu, gadis itu tidak muncul lagi. Sekalipun dia menangis keras-keras di antara salju, Firelia tidak pernah mengunjunginya lagi. Mungkin… gadis itu sudah melupakannya.

*-*-*-*


[1] Sebuah puisi yang ditulis pertama kali oleh tokoh utama tentang gadis yang pernah muncul di masa kecilnya dulu. Yang saat ini entah ada di mana.

[2] Suatu kota dengan siklus musim dingin sangat panjang. Di cerita ini pengarang tidak mau menyebutkan letak pasti di mana kota itu. Atau lebih tepatnya merahasiakannya.

[3] Yang dimaksud gadis itu adalah dongeng tentang negeri Eldar dengan tokoh Violin & Firelia. Ada di cerita Eldar: Violin & Negeri Salju Abadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s