Zurra Vloreanth -Goresan Pertama (Kau Akan Abadi)

Goresan Pertama

(Kau akan abadi)

 

 

-Araena, tahun 211 (Era Perang Sihir)

 

Pagi itu di kota Erha, ibu kota benua Eve, di sebuah taman bunga, beberapa gadis cilik saling berlarian mengejar puluhan kupu-kupu yang ada di sana. Di sudut lain, tepat di bawah naungan pohon, seorang bocah berambut ungu lurus berpakaian lusuh compang-camping sedang berdiam diri menjauhi gadis-gadis cilik itu.

“Kau di sini, Zurra!” tanya seorang gadis cilik yang tiba-tiba muncul di belakang pohon tempat bocah kumuh itu bersandar.

Zurra, bocah lusuh itu tersentak kaget, dan berbalik. Dia menatap gadis cilik dengan rambut hitam bergelombang yang terkucir dua dengan poni lurus di dahinya. Mata gadis itu berbinar cerah dan hijau. Pakaian suteranya itu begitu putih dan seolah bercahaya.

“Aku tahu itu kau. Jadi aku mendatangimu,” ucap gadis cilik itu sambil tersenyum.

“Em-Emilie?” panggil Zurra terkejut.

“Apa yang kau lakukan di sini? Ayo ikut bermain dengan teman-temanku! Akan kukenalkan mereka kepadamu,” kata Emilie sambil menjulurkan tangan kirinya kepada Zurra.

“Tapi aku—” Zurra berpaling menatap gadis-gadis cilik yang masih berlarian mengejar kupu-kupu jauh di depannya.

“Sudah, ikut saja!” Emilie meraih tangan Zurra, kemudian membawanya berlari menuju teman-temannya.

“Emilie, kurasa ini tak begitu baik,” ucap Zurra yang hanya bisa berlari diseret Emilie.

“Apa yang kau bicarakan?” balas Emilie. “Teman-teman, lihat siapa yang kubawa!” teriaknya kepada gadis-gadis yang ada jauh di depan sana.

Gadis-gadis kecil yang berlarian itu berhenti dan berlari menyambut Emilie serta Zurra yang juga berlari ke arah mereka.

“Teman-teman, ini Zurra. Dia temanku,” kata Emilie yang berhenti di hadapan teman-temannya. Ada enam gadis kecil di depannya.

“Hai! Namaku Zurra. Zurra Vloreanth,” sapa Zurra kepada gadis-gadis itu. Nada bicaranya terdengar canggung.

Akan tetapi, yang didapat Zurra bukanlah sambutan baik dari gadis-gadis di hadapannya, melainkan tatapan penuh hinaan yang seolah menginginkan kepergiannya.

“Apa yang kau lakukan, Emilie? Siapa anak kumuh ini?” kata salah satu gadis sambil mendorong Zurra mundur.

Zurra sama sekali tak terkjut. Dia sudah menduga bahwa hal ini pasti terjadi. Bahwa tak ada orang lain yang peduli terhadapnya.

“Siapa dirimu, bocah lusuh? Pergi kau dari sini!” ucap salah satu gadis lain sambil mendorong Zurra hingga bocah berambut ungu itu terjatuh.

“Hey, apa yang kalian lakukan?” kata Emilie sambil membantu Zurra berdiri.

“Menyingkir darinya, Emilie! Kau tahu siapa dirimu dan kau tak pantas bergaul dengan gelandangan seperti dia!” ucap salah satu gadis lain sambil menarik Emilie menjauh dari Zurra yang hanya mampu memendam kepalanya begitu dalam.

“Pergi kau gelandangan!”

Zurra kembali terjatuh saat didorong oleh dua gadis, bahkan tendangan-tendangan keras diterimanya dari gadis-gadis itu.

Jangan… jangan marah, Zurra! Jangan pedulikan mereka! Pikir Zurra.

“Hentikan!” bentak Emilie dan berlari ke depan Zurra. Dia berusaha menghentikan perilaku teman-temannya. “Apa Zurra membuat kesalahan? Kenapa kalian berlaku kasar kepadanya?” sambungnya sambil membantu Zurra berdiri.

“Apa yang kau bicarakan, Emilie? Untuk apa kau membelanya?” ucap salah satu gadis sambil berusaha menarik Emilie, namun Emilie menolak dan tetap berada di depan Zurra.

“HENTIKAN!” sergah Emilie keras. “Kau baik, Zurra?” sambungnya kepada Zurra yang semakin membisu di belakangnya.

“Sampai jumpa, Em!” Zurra berpaling, kemudian berlari menjauhi gadis-gadis itu. Di antara larinya, dia mengusap linangan tangis dari mata hitamnya.

“Zurra!” panggil Emilie mencoba menghentikan Zurra yang sudah berlari jauh.

“Benar. Berlarilah menjauh! Menghilanglah!” pekik salah satu gadis.

“Kalian kejam! Kalian keterlaluan!” bentak Emilie sambil berlari menjauhi teman-temannya untuk mengejar Zurra yang sudah hilang di balik pepohonan.

“Kembali, Emilie! Aku akan mengadukanmu kepada Paduka Zhione bila kau tak mendengarkanku,”

Emilie mengabaikan teriakan mengancam itu dan dia terus berlari mencoba menyusul Zurra yang saat itu entah ada di mana.

Awan hitam mulai bergulung menutupi penjuru Erha. Langit yang tadinya begitu cerah, saat ini suram oleh kelabu awan yang saling bergemuruh.

Zurra terhuyung dengan linangan air matanya ke dalam sebuah rumah reyot yang tak lagi berpenghuni. Itu jelas bukan rumahnya. Atau lebih parah lagi. Zurra tak memiliki tempat tinggal sejak tiga tahun lalu. Bersamaan dengan itu halilintar menyambar sangat keras. Tak sampai satu menit, hujan turun dengan derasnya di seluruh Erha. Zurra beruntung meski rumah reyot itu atapnya berlubang dan tetes hujan saling mengalir di antaranya, dia tidak basah kuyup oleh tetes-tetes air itu.

“Kau bodoh, Zurra. Kau pikir siapa dirimu? Kau tak pantas mempunyai teman. Semua orang membencimu. Semua orang tak mempedulikanmu,” gumam Zurra lirih. Dia duduk bersandar pada sebuah dinding kusam. Kepalanya tertunduk begitu dalam dan di hadapannya air hujan mulai menggenang.

“Kau harusnya pergi dari sini! Erha membencimu. Bahkan Tuhan Zheith[1] tak peduli kepadamu,” Zurra menengadahkan kepalanya ke atas menatap lubang-lubang pada atap rumah itu. Maksud Zurra mungkin untuk menatap langit yang terus meneteskan hujan di atas sana.

Tiba-tiba suara pintu yang tergebrak terdengar beriring dengan panggilan-panggilan yang menyerukan nama Zurra.

“Emilie?” gumam Zurra lirih dan memendam kepalanya begitu dalam.

“Zurra, kau di mana? Kau ada di sini, kan? Jawab aku!” teriak gadis yang jelas-jelas Zurra ketahui sebagai Emilie.

Zurra yang berada di ruang lain dari rumah itu hanya berdiam. Dia sama sekali tak bersuara, dan mencoba mengusir Emilie dengan kebisuannya.

“Di mana kau?” teriak Emilie sambil memeriksa rumah yang cukup gelap itu, hingga saat  petir menyambar kilatnya yang terang sekilas menerangi rumah itu. Emilie mampu menatap sebuah ruangan yang sebelumnya tertutup oleh gelap.

“Zurra!” Emilie bergegas lari menuju ruangan itu. Dia menghampiri sosok Zurra yang masih duduk bersandar pada dinding.

“Pergilah, Em!” ucap Zurra lirih dengan kepalanya yang masih tertunduk. Emilie berhenti tepat di depannya.

“Maafkan aku, Zurra! Aku  tak berniat—”

“Jangan peduli padaku!” potong Zurra sambil menatap sosok Emilie yang begitu basah oleh hujan. “Berlakulah seperti semua orang! Jangan pura-pura peduli kepadaku!” sambungnya lebih keras.

“Aku memang peduli kepadamu!”

“Kalau begitu berpura-puralah tidak peduli padaku!” balas Zurra sambil berupaya berdiri dengan begitu perlahan. “Kau tidak pantas peduli kepadaku, Puteri Emilie!”

“JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU!” kali ini Emilie membentak. “Aku senang berteman denganmu. Kau telah menolongku beberapa kali, dan aku nyaman bersama denganmu. Jadi jangan persoalkan siapa aku dan siapa kau! Kita ini teman,” lanjutnya lebih pelan.

“Jangan peduli terhadapku! Untuk saat ini biarkan aku tak kau pedulikan!” kata Zurra lirih sambil berjalan menjauhi Emilie yang saat itu terpatung. Langkahnya yang semula pelan itu kini mulai cepat, lebih cepat, dan semakin cepat lagi hingga berubah menjadi lari. Dia berlari dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah itu.

Zurra menembus hujan yang sangat lebat, menyusuri jalanan desa yang sepi. Tubuhnya dalam sedetik sudah basah kuyup oleh hujan. Di antara larinya yang tergesa itu, Zurra berharap bahwa air matanya akan hilang tersapu oleh hujan. Berharap pula bahwa semua kesedihannya akan terkikis oleh hujan itu.

Langkah Zurra yang sedemikian tergesa itu berakhir saat dia terjatuh di jembatan kayu yang memotong aliran sungai deras. Dia jatuh tersungkur dan tak berniat berdiri untuk beberapa saat. Dia membiarkan dirinya terjatuh menerima terjangan hujan yang bertambah deras.

“Tuhan Zheith itu adil,”

Tiba-tiba di antara derasnya hujan, suara pelan itu terdengar oleh Zurra. Dia mendongakkan kepalanya mencari si pencetus suara.

“Kau mau terus di sana? Dan, menangis?” ucap seorang pria tengah baya yang berselimutkan jubah coklat bertudungnya. Pria itu berdiri tegak di depan Zurra yang masih terjatuh.

Zurra bangkit dengan pelan, dan duduk membisu di depan kaki pria itu. “Siapa kau? Apa maksudmu bahwa Tuhan Zheith itu adil?”

Pria itu tersenyum dan melepas jubahnya. Dia menyelimutkan jubah itu ke punggung Zurra. Wajah pria itu begitu tenang dengan matanya yang teduh. Rambutnya putih dan terjatuh ke belakang sampai ke bahunya.

“Bahwa Tuhan Zheith selalu memberikan pilihan kepada orang-orang istimewa sepertimu,” ucap pria itu diiringi senyum.

“Istimewa?” Zurra tak mengerti. Dia menatap lekat-lekat mata pria itu dan baru menyadari bahwa pupil mata pria itu berwarna biru cemerlang, dan terdapat garis-garis perak yang saling membentuk pola sebuah bintang pada mata itu. Di dahi pria itu juga terdapat bintik-bintik krsital putih yang berkilauan. Telinganya panjang dengan ujungnya yang meruncing.

“Benar. Kau itu istimewa. Karena itulah Zheith memberimu pilihan yang istimewa,” ucap pria aneh itu sambil merunduk di hadapan Zurra yang semakin heran.

“Kau berani menyebut nama Tuhan Zheith tanpa kata ‘Tuhan’?” kata Zurra terkejut. “Siapa kau?” selidik Zurra.

“Ah, itu tak penting,” pria itu menepuk kepala Zurra. “Jadi, Zurra Vloreanth, bersediakah kau mengubah takdirmu? Dari seorang gelandangan tak berguna menjadi seseorang yang jauh lebih sempurna?” tanya pria itu dan tersenyum.

“Apa maksudmu? Darimana kau tahu namaku?”

“Jawab saja mau atau tidak!” potong pria aneh itu beriring dengan sambaran petir yang menggelegar dan memperderas hujan.

Zurra justru terdiam saat mendengar ucapan pria itu. Karena itu si pria menjewer telinga kanan Zurra hingga bocah itu merengek kesakitan.

“Kau dengar aku tidak?” pria itu menarik lebih kencang telinga Zurra.

“Hey, lepaskan!… apa-apaan kau?” ucap Zurra sambil berusaha melepas jeweran pria itu.

“Kau tidak mendengarkanku ya?” pria itu melepas telinga kanan Zurra dan menjewer telinga kiri Zurra hingga bocah kumuh itu kembali merengek kesakitan.

“Iya… iya… aku dengar,” kata Zurra sambil berusaha melepas tangan pria itu dari telinga kirinya. “Sekarang lepaskan aku!”

“Aku memintamu menjawabnya!” pria itu melepas telinga Zurra dan kali ini segera menarik hidung bocah itu. “Apa jawabanmu?”

“Iya aku bersedia,” jawab Zurra sengau.

Pria itu terkekeh dan melepas hidung Zurra yang sudah memerah. “Kau lucu sekali. Sepertinya aku tidak salah pilih,” katanya sambil berdiri dan mengusap rambut ungu Zurra.

“Jadi apa?” tanya Zurra jengkel.

Pria itu mendadak menghilangkan senyumannya. Matanya yang sayu itu kini menatap penuh misteri kepada Zurra. Menerima tatapan dingin, dan misterius itu, Zurra langsung merinding.

“M-maaf!” ucap Zurra lirih.

“Aku akan memberimu sebuah tanda. Tanda bahwa takdirmu akan berubah. Tanda bahwa setelah ini kau akan menjadi orang yang sangat hebat,” kata pria itu datar.

“Tanda?”

“Stigma,” balas pria itu cepat dan tanpa ekspresi. “Tapi begitu menerima stigma ini kau tak dapat menghapusnya.” Pria itu menjulurkan tangan kanannya ke atas menyambut hujan yang masih saja berjatuhan sedemikian deras. “Bersediakah kau, Zurra Vloreanth, untuk menerima takdir barumu ini?”

Zurra tak segera menjawabnya, namun dia sempat mengangguk menyetujuinya. Matanya terpaku kepada mata penuh misteri dari pria itu. Dia terlalu terkejut untuk membuka bibir.

“Bagus. Sekarang julurkan tangan kirimu! Biar kutorehkan stigma ini.”

Zurra menurut dan menjulurkan tangan kirinya. Pria itu langsung mencengkeram tangan kiri Zurra dengan tangan kanannya. Zurra menjerit kesakitan merasakan panas luar biasa yang menyayat-nyayat sekujur lengan kirinya. Berlanjut dengan rasa perih seolah daging pada tangan kirinya dicabik-cabik oleh puluhan pedang tajam. Zurra menjerit semakin keras saat bercak-bercak hitam mulai menjalar dari cengkeraman pria itu, bagaikan tato abstrak yang menjalar ke tangan kirinya. Bercak-bercak hitam itu awalnya melepuh dan terasa begitu panas, namun perlahan mulai terlihat bagaikan goresan-goresan tinta hitam atau semacam bekas luka bakar yang berpola.

Zurra menjerit keras dan jatuh tersungkur saat pria itu melepas cengkeramannya. Dia  tersungkur penuh rintihan di antara air yang menggenang. Dia terus merintih sambil mencengkeram pundak kirinya yang luput dari stigma. Pundak itu adalah satu-satunya bagian yang tak terjamah oleh stigma di tangan kirinya.

“Sekarang, mulai sekarang takdirmu akan berubah, Zurra Vloreanth. Hidupmu akan sepenuhnya berubah… mulai saat ini kau akan abadi.” Ucap pria di hadapan Zurra sambil berpaling.

“Si-Siapa… kau?” tanya Zurra di antara rintihan-rintihannya. “Sebenarnya siapa kau ini? Sebenarnya apa kau ini?” tuntut Zurra.

“Aku,” pria itu memalingkan kepalanya ke arah Zurra dan menatap tajam bocah itu, sehingga pola bintang yang terlukis di matanya tampak jelas oleh Zurra. “Zheith,”

Sekejap tubuh pria itu bercahaya semu dan sepasang sayap putih terbentang dari punggungnya, kemudian sosok yang mengaku Zheith itu terbang melesat ke angkasa menembus hujan.

“Tidak… tidak mungkin,” ucap Zurra tak percaya, kemudian stigma di tangan kirinya terasa terbakar lebih panas lagi hingga Zurra menjerit sedemikian kerasnya, sebelum dia pingsan di antara hujan deras itu.


[1] Tuhan Eve. Pengatur kehidupan, kematian, jodoh, harta, dan segala-galanya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s