0

Zurra Vloreanth -Goresan Kedua (Sihir Yang Berusaha Menjajah)

Goresan Kedua

 

(Sihir yang berusaha menjajah)

 

-Araena, tahun 225 (Akhir Era Perang Sihir, bertepatan dengan awal Era Perang Takdir)

 

Zurra masih belum sadar. Meski begitu dia dapat merasakan sakit di tubuhnya. Di ujung matanya hanya ada gelap yang menghampar tak berujung, dan rasa sakit di tangan kirinya kini beralih pada dadanya. Saat dia mulai sadar, sayup-sayup terdengar pekik keributan tak jauh dari tempatnya tak sadar diri. Dia membuka mata, dan pandangannya sesaat kabur, lalu berangsur normal. Dia menyadari bahwa dia terbaring lemah di dalam sebuah ruangan suram.

Sebuah pintu pada ruangan dengan nuansa suram itu terbuka. Seorang pemuda dengan zirah[1] bajanya memasuki ruangan. Rambut pria itu berwarna merah dan jatuh lurus ke dahi kirinya. Tubuhnya terlihat kecil meski sudah bersembunyi di dalam baju bajanya. Mata pemuda itu berwarna merah terang seperti rambutnya.

“Jenderal Vloreanth!” panggil pemuda itu saat menatap pria di atas ranjang kayu yang telah membuka matanya. Tetapi pria yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun itu tetap berbaring. “Anda sudah sadar, Jenderal?” panggil pemuda itu lagi sambil bergegas mendekati pria yang terbaring.

Pria berambut ungu dan jatuh lurus ke wajah kirinya hingga sampai ke mulut itu memalingkan kepalanya. Dia menatap pemuda yang berhenti di sebelah ranjang kayunya. “Apa yang terjadi padaku, Rien?” tanya pria itu dan berusaha duduk dengan tertatih.

“Anda—”

Sebelum Rien menyelesaikan ucapannya, pria yang tak lain adalah Zurra itu sudah menyadari keadaannya. Dia bertelanjang dada dengan balutan perban yang melilit dadanya yang terasa ngilu, sementara stigma di tangan kirinya terlilit perban.

“Anda tertikam oleh sihir, Jenderal,” ucap Rien pelan. “Harusnya Anda bahkan mati oleh tikaman yang merobek jantung Anda,” sambungnya.

Zurra meraba perban yang membalut dadanya dengan perlahan.”Karena Tuhan Zheith tak mengizinkan kematianku datang,” ucap Zurra lirih bahkan nyaris bergumam.

“Maaf?” tanya Rien.

“Abaikan!” sergah Zurra. “Berapa lama aku pingsan? Bagaimana keadaan pasukan kita sekarang?” tanya Zurra. Dia berdiri, dan berjalan menghampiri zirah besarnya yang tergeletak di ranjang kayu lain.

“Selama tiga hari, dan saat ini Komandan Arrezh sedang memimpin pertempuran di Kerajaan Sihir Almaero. Selama Anda pingsan, pulau sihir itu semakin mendekati wilayah Kreilla. Bahkan saat ini pulau itu hanya berjarak tiga ratus tombak dari pantai Kreilla,” kata Rien sambil mendekati Zurra yang kesulitan mengenakan zirah bajanya.

“Jadi Arrezh yang memimpin pasukan?” Zurra menambatkan sebilah pedang besar pada pinggang kirinya seusai mengenakan zirah. “Aku dapat merasa tenang bila anak itu yang memimpin perang,” sambungnya.

“Tapi sebaiknya Anda tetap di sini, Jenderal! Keadaan anda belum pulih,”

“Persetan!” balas Zurra sambil berjalan mendekati pintu. Dia berjalan sambil memegangi lengan kirinya. “Bila aku menunggu pulih, itu sama saja aku menunggu perang usai. Dan aku tak mau hanya Arrezh yang berunjuk gigi pada kesempatan ini,” dia membuka pintu, dan angin lembab langsung berhembus menerpanya. Di luar sana begitu mencekam karena sinar surya tertutupi hamparan awan kelabu yang menggantung di penjuru langit. Bahkan Zurra tak dapat mengetahui waktu itu pagi atau sore. Atau malam.

“Kita berada di bukit tertinggi di utara pantai Kreilla, Jenderal. Tak jauh dari medan perang,” ucap Rien yang berada di belakang Zurra.

“Ya Tuhan Zheith!” ucap Zurra. Dia dengan jelas mendengar teriakan-teriakan prajurit di medan perang yang membahana. “Tinggallah di sini, Rien! Aku memintamu jangan mengikutiku saat ini—“

“Tapi—“

“Jangan membantah!” bentak Zurra sambil berlari menuju seekor kuda hitam yang terikat pada sebuah tiang kayu.

“B-Baiklah,” balas Rien.

Zurra melepas ikatan kuda itu lalu menungganginya, kemudian memacu kuda itu untuk menuju medan perang. “Jangan pergi dari sana sebelum aku kembali!” teriak Zurra kepada Rien.

Zurra dengan kencang melaju melewati karang-karang terjal yang menghampar pada bukit itu untuk menuju ke pusat pertempuran di ujung sana, dan dalam sekejap rumah kayu yang tadi ditempatinya sudah tak terlihat. Teriakan-teriakan perang semakin jelas didengar olehnya. Karena itu dia semakin mempercepat lajunya mendaki sebuah daratan yang meninggi. Di puncak daratan yang meninggi itu dia menarik tali kekang kudanya hingga kuda itu terhenti.

Di bawah sana, sangat jauh di bawah bukit tempat Zurra terhenti, dan tepat pada pantai, ribuan prajurit Eve yang menggunakan zirah berdominan warna biru sedang berperang dengan ribuan pasukan dari kerajaan sihir Almaero. Pedang saling berbenturan, anak panah saling melesat dan menikam beberapa pasukan Almaero, namun beberapa prajurit Eve akan dengan mudah tumbang saat para prajurit Almaero meluncurkan cahaya-cahaya sihir mereka. Jauh dari pantai itu, di perairan, tepat pada sebuah pulau hitam yang terhubung melalui jembatan kayu yang panjang, perang pun terjadi. Tepat pada istana Almaero, di pulau sihir itu ribuan pasukan Eve telah bertarung dengan para pasukan sihir. Puluhan mayat dari kedua belah pihak tergeletak di setiap penjuru. Darah saling terciprat melalui tebasan-tebasan pedang.

Tiba-tiba dinding lantai dua istana Almaero hancur diterjang tubuh seseorang berambut putih panjang. Dia terhempas dari dalam istana dan jatuh ke halaman yang penuh pertarungan.

“Sial!” pria berambut putih yang juga bermata putih sipit itu menggapai pedang di kanannya yang terjatuh, dan menangkis beberapa tebasan pedang pasukan Almaero yang mendekat, kemudian menebas mereka secara bersamaan.

Sebuah ayunan tangan dari seseorang di depan gerbang istana mampu menciptakan bentangan cahaya biru yang menerjang seluruh pasukan, hingga pasukan baik dari kubu Eve maupun Almaero terjungkal ke berbagai penjuru kecuali dia si rambut putih yang menghalau cahaya dengan perisai besar.

“Ada satu yang cukup menarik!” ucap seorang wanita berbusana serba putih sambil melangkah dari depan gerbang istana.

“Kau akan lebih terkejut setelah ini,” perisai di tangan kiri pria itu hancur berkeping-keping oleh serangan wanita sihir di hadapannya. “Karena itu sebaiknya kau pergi!” pria itu melompat ke arah penyihir berusaha menebasnya dari atas, namun penyihir segera menahan tebasan itu dengan kedua telapak tangannya.

“Kaulah yang harusnya pergi!” teriak penyihir. Cahaya putih terbentang bersamaan dengan terpelantingnya pria berambut putih itu ke atas. Penyihir menjulurkan tangan kanannya ke atas. Sejurus kemudian cahaya terjulur dan menyambar pria yang masih terpelanting di udara itu.

Pria itu menjerit keras dan jatuh ke tanah dengan telak. Zirah bajanya bahkan pecah berkeping-keping menerima serangan itu. Beruntung hanya zirahnya yang hancur.

“Bolehkah aku tahu namamu, wahai ksatria Eve yang menarik? Mungkin aku akan merindukanmu setelah kau kuhabisi,” kata penyihir.

“Catat baik-baik namaku!” kata pria berambut putih itu. Dia menikamkan pedangnya ke tanah, dan berusaha berdiri. “Aku… Zea Arrezh Whitlem!” pria yang tak lain adalah komandan Arrezh itu bangkit dan dan membanting pedangnya ke tanah, lalu berlari begitu cepat menuju penyihir.

“Zea!” panggil penyihir. Dia menjulurkan tangan kanannya ke arah Arrezh. Sejurus kemudian pilar cahaya terjulur.

“Panggil aku Komandan Arrezh!”  teriak Arrezh sambil menebas cahaya yang terjulur kepadanya. Dalam sekejap cahaya terhempas ke segala arah, namun pedangnya meretak.

“Ayo lanjutkan!” kata penyihir sambil merentangkan kedua tangannya. Sejurus kemudian api menyeruak dan berkobar mengitari tubuhnya.

Arrezh mengibaskan pedangnya berusaha menebas penyihir, akan tetapi saat itulah penyihir menjentikkan jarinya hingga api saling berkobar menerjang Arrezh.

Arrezh langsung terhempas menjauh dan tersungkur. Dia beruntung api tak sempat membakar hangus rambut putihnya yang panjang itu.

“Aku suka mulut besarmu itu, Arrezh!” penyihir kembali memunculkan kobaran-kobaran api yang mengitarinya, lalu dia menjunjung kedua tangannya ke atas. Seluruh api berkobar ke atas dan menyatu menjadi sebuah bola api. Dia langsung menembakkannya kepada Arrezh.

“Kukira kaulah yang bermulut besar,” teriak Arrezh sambil melompat menghindari bola api yang saat itu menerjang tanah dan meledak begitu dahsyat. Bahkan oleh dahsyatnya ledakan itu Arrezh kembali terjungkal jatuh.

“Terserah apa katamu, Komandan!” penyihir menjulurkan tangan kirinya ke arah Arrezh. Alhasil api dari ledakan dahsyat itu saling berkobar ke arah penyihir dan bergulung-gulung di hadapan tangannya. “Tapi sekarang aku bosan denganmu,” seketika itu api di hadapan tangannya saling bergejolak dan menyemburkan kobaran api yang begitu membara kepada Arrezh yang masih berupaya berdiri.

“Sial!” umpat Arrezh. Dia sadar tak mungkin menghindari api yang semakin dekat itu.

Namun sedetik sebelum api menerjang Arrezh, seseorang muncul di hadapannya dan membendung terjangan api dengan sebuah perisai besar. “Kau baik?” tanya orang yang membendung api.

“Zurra!” ucap Arrezh pelan saat menatap pria di balik zirah baja yang menahan terjangan api.

Semakin lama, perisai baja Zurra mulai berwarna bara dan terasa panas akibat terjangan deras dan terus menerus dari api penyihir. Karena itu Zurra mendorong perisainya untuk sesaat menghempas api, kemudian dengan satu kibasan pedang, dia mampu membelah kobaran api ke segala arah, disusul pedangnya yang dihempas ke arah penyihir. Dengan telak pedang itu menikam jantung penyihir.

“Kita kalah jumlah. Kita harus mundur!” ucap Arrezh yang dengan susah payah berdiri, sementara Zurra mendekati mayat penyihir dan mencabut pedangnya.

Saat itulah Zurra menatap ke langit suram di atas sana. Dia terperangah menatap hal apa yang sedang terjadi. Ribuan pudaran hitam saling berterbangan mendekati wilayah pertempuran, dan jelas-jelas bahwa itu bukanlah bantuan untuk Eve. “Kurasa kau benar,” dia bergegas menuju kudanya, dan mempersilakan Arrezh untuk membonceng. Keduanya bergegas menjauhi tempat itu.

Seolah tak membiarkan upaya kabur itu, dari dalam istana Almaero, puluhan penyihir berbusana serba putih muncul dan berusaha menyerang Zurra maupun Arrezh dengan sihir-sihir cahaya mereka, namun dengan lihai Zurra menghindari serangan-serangan itu.

“UNTUK PASUKAN EVE, MUNDUR!” pekik Zurra lantang sambil terus memacu kudanya, sementara Arrezh sibuk menebas pasukan-pasukan Almaero di sekitarnya.

Tak membutuhkan waktu lama, pekik keras Zurra telah menyebar ke seluruh pasukan Eve yang tersisa melalui teriakan-teriak prajurit lain, dan tanpa membuang waktu, seluruh prajurit Eve berlari mundur meninggalkan arena perang.

Pasukan Almaero yang merasa unggul oleh upaya mundur pasukan Eve segera melakukan pengejaran. Ribuan pudaran hitam dari langit itu kini telah berterbangan di penjuru pulau dan tak jarang menerjang pasukan Eve. Panah-panah berselimut cahaya mistis saling meluncur dari arah istana Almaero dan menghujam pasukan Eve yang berusaha kabur.

“Kurang ajar!” umpat Zurra sambil menebas pudaran-pudaran hitam yang mencoba menerjangnya.

Arrezh yang membonceng Zurra segera menangkis sebuah tebasan pedang dari seorang penyihir berkuda di sampingnya. Dia mengibaskan pedangnya hingga menghempas pedang penyihir, lalu dia melompat dengan sebuah tikaman yang telak menembus jantung penyihir. Dia menyingkirkan penyihir itu, kemudian mengambil alih kendali atas kuda yang kini ditungganginya.

“Kita harus cepat, Jenderal! Sepertinya pasukan Almaero akan mengambil tindakan terhadap jembatan kita!” ucap Arrezh yang memacu kudanya di sebelah Zurra. Jauh di depan mereka, ratusan prajurit Eve, yang berlari maupun berkuda telah berbondong-bondong menyusuri jembatan kayu sangat panjang yang menghubungkan pulau itu kepada pantai Kreilla.

“Bedebah,” hardik Zurra sambil menoleh ke sekeliling dimana pasukannya berlarian menjauhi pasukan Almaero yang terus mengejar.

Tiba-tiba pada puncak sebuah bukit karang tertinggi pada pulau itu bermunculan puluhan pasukan sihir. Mereka langsung melancarkan sihir kepada pasukan Eve. Ratusan kabut hitam berhembus dari langit dan serta merta berubah menjadi tombak-tombak hitam yang menghujani pasukan Eve. Puluhan pasukan Eve tumbang, namun tak sedikit pula yang mampu menghalau tombak-tombak itu. Tak lama kemudian pasukan pemanah Eve menghentikan upaya pelarian mereka dan melancarkan anak panah kepada para penyihir di puncak bukit yang menjadi dalang tombak-tombak dari langit itu. Beberapa penyihir itu terjatuh oleh hujaman panah, namun para pemanah Eve segera mendapat serangan dari pasukan Almaero yang melakukan pengejaran.

Hujan tombak itu masih saja mendera pasukan Eve yang mencoba melarikan diri, dan hal itu membuat banyak pasukan Eve jatuh tersungkur, ditambah lagi dengan serangan pudaran-pudaran hitam yang terus berterbangan di segala penjuru pulau.

Sebuah tombak hitam meluncur dan menikam kuda Arrezh yang melaju kencang. Kuda itu jatuh hingga Arrezh terpelanting ke karang hitam di bawahnya. Zurra segera menarik tali kekang kudanya hingga kudanya terhenti dengan mengangkat dua kaki depannya.

Sebuah mata panah berselimut sihir melesat dari arah istana dan nyaris saja menikam Zurra, namun dia menepis mata panah menggunakan pedangnya. Panah itu terjatuh di bawahnya, dan saat itulah api menyeruak. Api berkobar menjilati  kuda Zurra. Hal itu membuat Zurra segera melompat menjauhi kuda yang meringkik kesakitan terbakar api. Kuda itu akhirnya sirna terbakar.

“Ayo lari!” perintah Zurra sambil bergegas lari menjauhi tempat itu disusul Arrezh. Di antara larinya yang tergesa, dia dan Arrezh menepis segala macam serangan yang terus berdatangan.

“Sial! Zirah ini terlalu berat untukku bisa berlari!” hardik Zurra sambil berbalik ke belakang dan menebas ribuan mata panah yang melaju kepadanya, sementara Arrezh telah mendahuluinya berlari.

“Kalau begitu buang saja! Bila kau ingin mati tentunya!” balas Arrezh yang terus berlari meninggalkan Zurra.

“Kau pikir zirahmu yang hancur itu bisa melindungimu?” Zurra menepis puluhan panah terakhir dan segera melompat mundur saat  api menyeruak dari panah-panah itu, dan berkobar mengejarnya.

“Hey, aku takkan mati hanya bila membuang baju bajaku. Aku lebih hebat darimu,” balas Arrezh yang semakin mempercepat larinya menjauhi kobaran api di belakangnya yang semakin membara.

Api itu kian membara dan terus mengejar Zurra dan Arrezh yang tak hentinya mempercepat langkah. Keduanya sangat tergesa dalam mengambil langkah menuju sebuah karang besar yang kemungkinan akan mereka gunakan sebagai perlindungan.

“Kita terlalu lambat, dan sayangnya api di belakang itu terlalu cepat. Sial!” ucap Zurra sambil berpaling ke belakang dimana api hanya berjarak beberapa rentang darinya, sementara Arrezh di depannya enggan berpaling sama sekali.

“Kau yang lambat. Aku… lebih cepat darimu, Jenderal!” balas Arrezh yang menatap penuh yakin ke arah karang besar yang sebenarnya masih sangat jauh dari jangkauan mereka.

“Sial kau!” umpat Zurra sambil menghentikan langkahnya dan berpaling menghadap api dengan sebuah kibasan pedang. Alhasil  api terbelah sejenak. Dia berkali-kali mengibaskan pedangnya untuk terus menciptakan celah di antara api yang saling bergejolak di sekelilingnya.

Sementara itu Arrezh tiba-tiba berhenti, dan hanya mampu terdiam  dengan takjub. Api yang harusnya menerjang dan membakarnya kini terhempas ke berbagai penjuru oleh Zurra.

“Huh,… kau memang cepat, bocah. Tapi apakah kau bisa selamat dengan kecepatanmu itu?” sindir Zurra di antara kibasan-kibasan pedangnya. Api terus meliuk-liuk dan terhempas ke berbagai arah.

“Baiklah…. Kau menang,” ucap Arrezh lirih. “Tapi jangan terlalu asyik, Jenderal!” sambungnya sambil berpaling dan berlari.

“Tak perlu kau suruh, Komandan!” Zurra mengibaskan pedangnya untuk menghempas api terakhir dan segera berlari menyusul Arrezh yang sudah cukup jauh.

 

 

 

 

 

Seseorang dengan pakaian serba hitam dan berjubah penuh rumbai, berwajah  tertutup lilitan kain hitam dan hanya terdapat dua lubang di bagian mata, berjalan mendekati sebuah bola kristal bening yang terus berkilauan.

Ruangan itu adalah titik tertinggi di istana Almaero. Lantainya berwarna kuning keemasan, dan pada dindingnya terdapat jendela-jendela besar yang tertutup rapat.

Seseorang serba hitam itu berhenti di hadapan sebuah altar dimana pada pusat altar itu terdapat sebuah meja emas bundar dan di atas meja emas itu terdapat kristal berukuran dua kali kepalan pria dewasa.

“Kalian akan hancur, Eve,” ucap orang serba hitam itu. Suaranya berat dan rendah, dan jelas-jelas itu suara seorang pria. Kemudian pria tersebut berjalan menjauh menuju salah satu jendela besar yang tertutup. Langkahnya pelan dan begitu santai hingga memerlukan waktu cukup lama untuk sampai di hadapan jendela raksasa yang seketika itu terbuka.

Melalui mata merahnya, pria itu menatap upaya kaburnya pasukan Eve dari pasukan Almaero, kemudian matanya berpusat pada dua sosok yang berlari paling belakang menuju jembatan panjang. Zurra dan Arrezh.

“Nampaknya aku harus bertindak untuk dua orang itu,” ucapnya sambil menjunjung tangan kanannya ke atas, dan saat itulah cahaya biru terpancar pada genggaman tangannya. Sedetik kemudian cahaya itu mewujud menjadi tongkat perak yang meliuk dengan ujungnya yang berupa kapak dan terdapat kristal merah penuh duri yang berkilauan di belakang kapak itu. “Aku datang,”

Seketika wujud pria itu terkikis menjadi ratusan daun hitam berselimut asap tipis, dan berterbangan menuju medan perang. Yang tak diketahui pria itu adalah terdapatnya beberapa mata yang mengawasinya dan bersembunyi di balik bayang-bayang kegelapan ruangan suram itu.

Untuk kesekian kalinya langit suram di atas peperangan itu bergemuruh, dan kini bahkan hujan halilintar terjadi. Namun cahayanya justru mempersuram penjuru tempat berkarang itu. Di bawah sana, tepat di hadapan jembatan panjang penghubung menuju Eve, Zurra dan Arrezh masih berlari.

“Cepatlah, Zurra! Sejujurnya kau payah dalam berlari,” ucap Arrezh yang berlari di hadapan Zurra. Jauh di depan keduanya, pasukan Eve masih berdesakan menyusuri jembatan.

Arrezh baru akan menginjakkan kakinya pada jembatan, saat sebuah pudaran hitam pekat yang begitu besar menerjang seluruh jembatan dari atas. Dalam sekejap jembatan panjang itu hancur berkeping-keping di antara air laut yang bergejolak. Puluhan pasukan Eve yang masih berlari pada jembatan itu pun ikut hancur bersama dengan jembatan.

Arrezh terkejut setengah mati melihatnya, sementara Zurra telah berhenti di sebelahnya. Jembatan itu remuk oleh pudaran yang hitam mengaduk-aduk perairan. Kemudian pudaran hitam itu saling berterbangan ke arah Zurra dan Arrezh.

Dua ksatria Eve itu menebas pudaran hitam bersamaan. Alhasil seluruh pudaran hitam terbelah, dan terhempas ke berbagai arah.

Pudaran-pudaran hitam tersebut mewujud menjadi ribuan daun hitam yang berterbangan menuju satu sama lain, dan bersatu untuk mewujud sebagai sosok pria serba hitam dengan tongkat berkapaknya jauh di belakang Zurra dan Arrezh.

“Kalian cukup hebat,” ucap pria hitam itu.

Zurra dan Arrezh yang semula menatap perairan kini berpaling dengan terkejut ke arah sosok hitam yang memunggungi mereka.

“Almaero?” panggil Arrezh terkejut.

“Kaisar!” bentak pria hitam yang tak lain adalah penyihir Almaero. Dia berpaling ke arah Arrezh dan Zurra, kemudian menjulurkan tongkatnya. Sejurus kemudian cahaya biru terang terjulur ke arah dua ksatria Eve itu.

Zurra melangkah maju dan menahan terjangan cahaya sihir dengan pedang besarnya. Adu dorong terjadi. Cahaya saling terpercik ke segala arah begitu berterjangan dengan bilah pedang Zurra, dan seiring waktu, pedang itu mulai memerah terkena panas cahaya.

“Kau pikir kau cukup kuat, Jenderal?” sindir Almaero. Dia semakin memperkuat cahaya sihirnya hingga cahaya itu kian deras menerjang pedang Zurra.

“Sial!” perlahan Zurra mulai terdorong ke belakang oleh terjangan cahaya itu. Keringat bahkan mulai bercucuran dari dahinya, namun dengan sekali kibasan pedang, dia mampu menghempas seluruh cahaya sihir. Dia langsung terjatuh.

Arrezh segera melompat ke arah Almaero berusaha menebasnya dari atas, akan tetapi tubuh Almaero melebur menjadi pudaran hitam dan menerjang Arrezh, hingga ksatria Eve itu tertahan di udara. Pudaran-pudaran hitam terus menerus menerjang tubuhnya.

Arrezh menjerit keras saat merasakan setiap senti dari tubuhnya bagaikan terbakar oleh api yang begitu panas, dan saat itulah sosok Almaero mewujud di atasnya. Penyihir itu mengibaskan kapaknya, tapi langsung ditahan dengan pedang oleh Arrezh. Seketika itu Arrezh terhempas ke bawah dan jatuh tersungkur di sebelah Zurra yang mencoba bangkit. Almaero turun ke bawah dengan sangat pelan.

“Kau baik, Zurra?” tanya Arrezh yang mencoba berdiri di sebelah Zurra.

“Kau mengejekku?” balas Zurra sambil membantu Arrezh berdiri.

Arrezh terkekeh pelan. “Sedikit,” balasnya. “Tapi kuyakinkan kita menang,” sambungnya sambil menatap sosok Almaero yang berdiri angkuh di hadapan mereka.

“Bisa aku tahu mengapa?”

“Lihat saja nanti!” balas Arrezh sambil berlari begitu cepat ke arah Almaero. Saat itulah Almaero mengibaskan jubah hitamnya hingga muncul getaran kuat. Seketika itu Arrezh terjatuh.

“Tapi aku benci menunggu,” Zurra berlari menuju Almaero dengan pedang yang direntangkannya.

“Tunduklah padaku, ksatria Eve!” teriak Almaero. Dia menjulurkan tongkatnya hingga cahaya biru terang terjulur ke arah Zurra.

Zurra menikamkan pedangnya ke karang di bawahnya hingga sebongkah karang di hadapannya terhempas naik. Dia mendorong karang itu untuk menerjang cahaya sihir. Karang itu meluncur deras menerjang cahaya sihir hingga terhempas ke segala arah, sementara tak jauh di belakang karang itu Zurra masih berlari menuju Almaero.

Zurra melompat tinggi berusaha menebas Almaero dari atas. Almaero menebas hancur karang yang terhempas ke arahnya, kemudian menahan tebasan Zurra dengan tongkat berkapaknya. Dalam sekali kibasan, Almaero mampu menghempas Zurra ke samping hingga Zurra menerjang puluhan karang di belakangnya, dan saat Zurra tersungkur, Almaero menjulurkan tongkatnya. Sejurus kemudian cahaya biru terpancar ke arah Zurra.

Zurra berlindung di balik sebuah karang untuk menghindari terjangan cahaya itu.

“Kaulah yang harus tunduk dengan kami, Almaero!” teriak Arrezh sambil melompat ke arah Almaero. Dia berusaha menebas dari atas.

Almaero tersentak kaget, lalu mengusaikan serangannya terhadap Zurra. Dia  menahan tebasan Arrezh dengan mata kapaknya. Sesaat keduanya terlibat adu dorong, namun akhirnya Almaero menghempas Arrezh ke kanan hingga Arrezh terpelanting dan jatuh pada salah satu karang. Almaero menjulurkan tongkatnya ke arah Arrezh hingga cahaya sihir terjulur cepat.

Arrezh melompat, menghindari serangan, kemudian melompat ke arah Almaero dengan ancang-ancang menebas. Almaero sudah berniat menahan tebasan Arrezh, namun saat itu dia sadar bahwa Zurra juga melompat dari kiri ke arahnya.

“Sial!” Almaero melompat mundur begitu jauh menghindari dua ksatria Eve itu.

“Terbanglah!” Arrezh menjabat tangan Zurra dan segera menghempas Zurra begitu cepat ke arah Almaero.

Zurra melesat menuju Almaero yang ada jauh di hadapannya. Dia memegang erat pedangnya, lalu merentangkannya.

Almaero berteriak keras sambil menjulurkan cahaya sihir kepada Zurra.

“Itukah teriakan putus asamu?” teriak Zurra sambil menebas pancaran cahaya sihir di antara lajunya. Dia terus mengibaskan pedangnya untuk menebas cahaya sihir yang menghalangi lajunya menuju Almaero.

Zurra semakin gencar menebas pancaran sinar itu hingga saling terhempas ke berbagai arah. “Takutlah padaku, Penyihir!” Dia mengibaskan pedangnya begitu cepat hingga seluruh cahaya sirna. Almaero langsung melangkah mundur.

Zurra tiba di hadapan Almaero bersambut tebasan kuatnya yang ditahan Almaero. Kedua sosok itu saling beradu dorong dan kali ini Zurra lebih unggul. Almaero mulai goyah saat menerima dorongan dari pedang Zurra.

Saat itulah Arrezh melesat dari belakang Zurra mencoba melancarkan serangan terhadap Almaero. Zurra yang menyadarinya langsung melompat ke samping, dan tebasan Arrezh menerjang tongkat Almaero hingga Penyihir itu terpelanting ke belakang.

Dari samping Zurra muncul dan berusaha menebas Almaero yang masih terhempas. Almaero menahan tebasan itu dengan tongkatnya, akan tetapi saat itu pula Arrezh muncul dari sisi lain dengan serangannya. Terdesak, Almaero berteriak keras dan menjunjung tongkatnya hingga sebuah getaran dahsyat tercipta dan menghempas kedua ksatria Eve berlawanan arah.

Almaero kembali berteriak hingga sebuah sinar petir tercipta pada tongkat berkapaknya, kemudian dijulurkan ke arah Arrezh hingga sebuah sambaran petir muncul dari tongkat itu menuju Arrezh yang segera berpaling menghindar.

Zurra melompat berusaha menebas Almaero, akan tetapi Almaero sadar, dan meleburkan tubuhnya menjadi pudaran-pudaran hitam.

Zurra tak sempat menghindari terjangan pudaran itu, hingga dia menjerit kesakitan. Pudaran hitam itu segera melingkupi tubuh Zurra dan memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Hal itu membuat Zurra semakin keras menjerit karena seluruh tubuhnya bagaikan tercabik-cabik belati tajam. Pudaran hitam itu memaksa keluar dan kembali menerjang. Zurra terhempas ke bawah dan tersungkur di sebelah Arrezh. Tak membuang waktu, Arrezh membantunya berdiri.

Sosok Almaero segera mewujud di antara pudaran-pudaran hitam di udara dan segera menjulurkan tongkat penuh petirnya. Seketika itu sambaran petir tercipta ke arah Zurra.

Zurra menahan petir dengan pedang besarnya. Almaero yang melihat hal itu semakin memperkuat petirnya hingga Zurra yang masih beradu dengan tekanan petir semakin kualahan. Kedua tangannya menggenggam erat gagang pedang yang bilahnya terus berkaitan dengan petir Almaero.

“Sebaiknya kalian menyerah, Eve! Biarkan kalian aku kuasai!” teriak Almaero hingga cahaya petirnya semakin terang.

“Bermimpilah!” Zurra jatuh berlutut tertekan petir Almaero. Kilat petir itu seolah telah mengikat pedangnya hingga tak memungkinkan lolos. Keringat mulai mengalir di sekujur tubuhnya. Dan telapak tangannya terasa terbakar oleh petir itu. Di sebelahnya Arrezh hanya terdiam menatap langit tanpa ekspresi.

“Kita menang, Jenderal.” Ucap Arrezh lirih sambil tersenyum. Dia berpaling menatap Zurra yang masih kualahan menerima petir Almaero.

“Apa… maksudmu?” tanya Zurra dengan suaranya yang berat. Konsentrasinya sedang terpusat pada pertahanannya hingga untuk bicara pun sulit.

“Yah… kita menang,” ulang Arrezh.

Saat itulah setitik sinar surya mampu menyusup menembus kelabu awan dan tepat menyinari tongkat berkapak Almaero. Alhasil tongkat itu mulai membatu, dan akhirnya hancur berkeping-keping.

“Apa?” Almaero yang terkejut berpaling ke atas, dan saat itulah sinar surya kembali melubangi awan dan tepat menyinarinya. Seketika itu dia menjerit keras di antara raganya yang mulai membantu, dan akhirnya jatuh ke bawah.

Di langit sana, puluhan bahkan ratusan sinar surya saling melubangi kelabu awan dan menyinari seluruh medan perang tak terkecuali istana Almaero, hingga seluruh pasukan sihir saling menjerit keras saat tubuh mereka membatu dan hancur.

“Apa yang terjadi?” tanya Zurra kepada Arrezh yang membantunya berdiri. Di sekitar mereka jeritan-jeritan pasukan sihir terus membahana ke penjuru daratan karang yang mulai cerah oleh sinar surya.

“Almaero mengandalkan Kristal penghisap cahaya untuk sihir mereka. Karena mereka akan membatu ketika terpapar cahaya surya maka mereka menghisap sinar dengan Kristal itu. Hal tersebut lah penyebab dari seluruh Negara yang telah dijajah Almaero akan kehilangan cahaya surya.” Jelas Arrezh.

“Lalu?”

“Aku mengetahuinya saat aku masuk ke istana Almaero, dan aku melihat Kristal itu. Karenanya kusuruh beberapa pasukan kita untuk bersembunyi di balik bayang-bayang kegelapan dan menunggu sebuah komando yang akan membuat seluruh pasukan Almaero meninggalkan istana, dan saat itulah mereka akan menghancurkan Kristal rapuh itu. Menghancurkannya berarti membebaskan semua cahaya surya yang telah diserapnya.”

“Dan komando itu adalah perintahku agar mundur? Sehingga pasukan Almaero akan mengejar pelarian kita?” tanya Zura.

Arrezh mengangguk. “Kita menang,”

Dalam beberapa menit kemudian seluruh tempat itu telah menerima cahaya sepenuhnya dari surya. Langit kini begitu cerah tanpa kelabu awan yang menghalangi, dan hanya ada beberapa awan putih yang berarak pelan.


[1] Baju Baja

0

Zurra Vloreanth -Goresan Pertama (Kau Akan Abadi)

Goresan Pertama

(Kau akan abadi)

 

 

-Araena, tahun 211 (Era Perang Sihir)

 

Pagi itu di kota Erha, ibu kota benua Eve, di sebuah taman bunga, beberapa gadis cilik saling berlarian mengejar puluhan kupu-kupu yang ada di sana. Di sudut lain, tepat di bawah naungan pohon, seorang bocah berambut ungu lurus berpakaian lusuh compang-camping sedang berdiam diri menjauhi gadis-gadis cilik itu.

“Kau di sini, Zurra!” tanya seorang gadis cilik yang tiba-tiba muncul di belakang pohon tempat bocah kumuh itu bersandar.

Zurra, bocah lusuh itu tersentak kaget, dan berbalik. Dia menatap gadis cilik dengan rambut hitam bergelombang yang terkucir dua dengan poni lurus di dahinya. Mata gadis itu berbinar cerah dan hijau. Pakaian suteranya itu begitu putih dan seolah bercahaya.

“Aku tahu itu kau. Jadi aku mendatangimu,” ucap gadis cilik itu sambil tersenyum.

“Em-Emilie?” panggil Zurra terkejut.

“Apa yang kau lakukan di sini? Ayo ikut bermain dengan teman-temanku! Akan kukenalkan mereka kepadamu,” kata Emilie sambil menjulurkan tangan kirinya kepada Zurra.

“Tapi aku—” Zurra berpaling menatap gadis-gadis cilik yang masih berlarian mengejar kupu-kupu jauh di depannya.

“Sudah, ikut saja!” Emilie meraih tangan Zurra, kemudian membawanya berlari menuju teman-temannya.

“Emilie, kurasa ini tak begitu baik,” ucap Zurra yang hanya bisa berlari diseret Emilie.

“Apa yang kau bicarakan?” balas Emilie. “Teman-teman, lihat siapa yang kubawa!” teriaknya kepada gadis-gadis yang ada jauh di depan sana.

Gadis-gadis kecil yang berlarian itu berhenti dan berlari menyambut Emilie serta Zurra yang juga berlari ke arah mereka.

“Teman-teman, ini Zurra. Dia temanku,” kata Emilie yang berhenti di hadapan teman-temannya. Ada enam gadis kecil di depannya.

“Hai! Namaku Zurra. Zurra Vloreanth,” sapa Zurra kepada gadis-gadis itu. Nada bicaranya terdengar canggung.

Akan tetapi, yang didapat Zurra bukanlah sambutan baik dari gadis-gadis di hadapannya, melainkan tatapan penuh hinaan yang seolah menginginkan kepergiannya.

“Apa yang kau lakukan, Emilie? Siapa anak kumuh ini?” kata salah satu gadis sambil mendorong Zurra mundur.

Zurra sama sekali tak terkjut. Dia sudah menduga bahwa hal ini pasti terjadi. Bahwa tak ada orang lain yang peduli terhadapnya.

“Siapa dirimu, bocah lusuh? Pergi kau dari sini!” ucap salah satu gadis lain sambil mendorong Zurra hingga bocah berambut ungu itu terjatuh.

“Hey, apa yang kalian lakukan?” kata Emilie sambil membantu Zurra berdiri.

“Menyingkir darinya, Emilie! Kau tahu siapa dirimu dan kau tak pantas bergaul dengan gelandangan seperti dia!” ucap salah satu gadis lain sambil menarik Emilie menjauh dari Zurra yang hanya mampu memendam kepalanya begitu dalam.

“Pergi kau gelandangan!”

Zurra kembali terjatuh saat didorong oleh dua gadis, bahkan tendangan-tendangan keras diterimanya dari gadis-gadis itu.

Jangan… jangan marah, Zurra! Jangan pedulikan mereka! Pikir Zurra.

“Hentikan!” bentak Emilie dan berlari ke depan Zurra. Dia berusaha menghentikan perilaku teman-temannya. “Apa Zurra membuat kesalahan? Kenapa kalian berlaku kasar kepadanya?” sambungnya sambil membantu Zurra berdiri.

“Apa yang kau bicarakan, Emilie? Untuk apa kau membelanya?” ucap salah satu gadis sambil berusaha menarik Emilie, namun Emilie menolak dan tetap berada di depan Zurra.

“HENTIKAN!” sergah Emilie keras. “Kau baik, Zurra?” sambungnya kepada Zurra yang semakin membisu di belakangnya.

“Sampai jumpa, Em!” Zurra berpaling, kemudian berlari menjauhi gadis-gadis itu. Di antara larinya, dia mengusap linangan tangis dari mata hitamnya.

“Zurra!” panggil Emilie mencoba menghentikan Zurra yang sudah berlari jauh.

“Benar. Berlarilah menjauh! Menghilanglah!” pekik salah satu gadis.

“Kalian kejam! Kalian keterlaluan!” bentak Emilie sambil berlari menjauhi teman-temannya untuk mengejar Zurra yang sudah hilang di balik pepohonan.

“Kembali, Emilie! Aku akan mengadukanmu kepada Paduka Zhione bila kau tak mendengarkanku,”

Emilie mengabaikan teriakan mengancam itu dan dia terus berlari mencoba menyusul Zurra yang saat itu entah ada di mana.

Awan hitam mulai bergulung menutupi penjuru Erha. Langit yang tadinya begitu cerah, saat ini suram oleh kelabu awan yang saling bergemuruh.

Zurra terhuyung dengan linangan air matanya ke dalam sebuah rumah reyot yang tak lagi berpenghuni. Itu jelas bukan rumahnya. Atau lebih parah lagi. Zurra tak memiliki tempat tinggal sejak tiga tahun lalu. Bersamaan dengan itu halilintar menyambar sangat keras. Tak sampai satu menit, hujan turun dengan derasnya di seluruh Erha. Zurra beruntung meski rumah reyot itu atapnya berlubang dan tetes hujan saling mengalir di antaranya, dia tidak basah kuyup oleh tetes-tetes air itu.

“Kau bodoh, Zurra. Kau pikir siapa dirimu? Kau tak pantas mempunyai teman. Semua orang membencimu. Semua orang tak mempedulikanmu,” gumam Zurra lirih. Dia duduk bersandar pada sebuah dinding kusam. Kepalanya tertunduk begitu dalam dan di hadapannya air hujan mulai menggenang.

“Kau harusnya pergi dari sini! Erha membencimu. Bahkan Tuhan Zheith[1] tak peduli kepadamu,” Zurra menengadahkan kepalanya ke atas menatap lubang-lubang pada atap rumah itu. Maksud Zurra mungkin untuk menatap langit yang terus meneteskan hujan di atas sana.

Tiba-tiba suara pintu yang tergebrak terdengar beriring dengan panggilan-panggilan yang menyerukan nama Zurra.

“Emilie?” gumam Zurra lirih dan memendam kepalanya begitu dalam.

“Zurra, kau di mana? Kau ada di sini, kan? Jawab aku!” teriak gadis yang jelas-jelas Zurra ketahui sebagai Emilie.

Zurra yang berada di ruang lain dari rumah itu hanya berdiam. Dia sama sekali tak bersuara, dan mencoba mengusir Emilie dengan kebisuannya.

“Di mana kau?” teriak Emilie sambil memeriksa rumah yang cukup gelap itu, hingga saat  petir menyambar kilatnya yang terang sekilas menerangi rumah itu. Emilie mampu menatap sebuah ruangan yang sebelumnya tertutup oleh gelap.

“Zurra!” Emilie bergegas lari menuju ruangan itu. Dia menghampiri sosok Zurra yang masih duduk bersandar pada dinding.

“Pergilah, Em!” ucap Zurra lirih dengan kepalanya yang masih tertunduk. Emilie berhenti tepat di depannya.

“Maafkan aku, Zurra! Aku  tak berniat—”

“Jangan peduli padaku!” potong Zurra sambil menatap sosok Emilie yang begitu basah oleh hujan. “Berlakulah seperti semua orang! Jangan pura-pura peduli kepadaku!” sambungnya lebih keras.

“Aku memang peduli kepadamu!”

“Kalau begitu berpura-puralah tidak peduli padaku!” balas Zurra sambil berupaya berdiri dengan begitu perlahan. “Kau tidak pantas peduli kepadaku, Puteri Emilie!”

“JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU!” kali ini Emilie membentak. “Aku senang berteman denganmu. Kau telah menolongku beberapa kali, dan aku nyaman bersama denganmu. Jadi jangan persoalkan siapa aku dan siapa kau! Kita ini teman,” lanjutnya lebih pelan.

“Jangan peduli terhadapku! Untuk saat ini biarkan aku tak kau pedulikan!” kata Zurra lirih sambil berjalan menjauhi Emilie yang saat itu terpatung. Langkahnya yang semula pelan itu kini mulai cepat, lebih cepat, dan semakin cepat lagi hingga berubah menjadi lari. Dia berlari dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah itu.

Zurra menembus hujan yang sangat lebat, menyusuri jalanan desa yang sepi. Tubuhnya dalam sedetik sudah basah kuyup oleh hujan. Di antara larinya yang tergesa itu, Zurra berharap bahwa air matanya akan hilang tersapu oleh hujan. Berharap pula bahwa semua kesedihannya akan terkikis oleh hujan itu.

Langkah Zurra yang sedemikian tergesa itu berakhir saat dia terjatuh di jembatan kayu yang memotong aliran sungai deras. Dia jatuh tersungkur dan tak berniat berdiri untuk beberapa saat. Dia membiarkan dirinya terjatuh menerima terjangan hujan yang bertambah deras.

“Tuhan Zheith itu adil,”

Tiba-tiba di antara derasnya hujan, suara pelan itu terdengar oleh Zurra. Dia mendongakkan kepalanya mencari si pencetus suara.

“Kau mau terus di sana? Dan, menangis?” ucap seorang pria tengah baya yang berselimutkan jubah coklat bertudungnya. Pria itu berdiri tegak di depan Zurra yang masih terjatuh.

Zurra bangkit dengan pelan, dan duduk membisu di depan kaki pria itu. “Siapa kau? Apa maksudmu bahwa Tuhan Zheith itu adil?”

Pria itu tersenyum dan melepas jubahnya. Dia menyelimutkan jubah itu ke punggung Zurra. Wajah pria itu begitu tenang dengan matanya yang teduh. Rambutnya putih dan terjatuh ke belakang sampai ke bahunya.

“Bahwa Tuhan Zheith selalu memberikan pilihan kepada orang-orang istimewa sepertimu,” ucap pria itu diiringi senyum.

“Istimewa?” Zurra tak mengerti. Dia menatap lekat-lekat mata pria itu dan baru menyadari bahwa pupil mata pria itu berwarna biru cemerlang, dan terdapat garis-garis perak yang saling membentuk pola sebuah bintang pada mata itu. Di dahi pria itu juga terdapat bintik-bintik krsital putih yang berkilauan. Telinganya panjang dengan ujungnya yang meruncing.

“Benar. Kau itu istimewa. Karena itulah Zheith memberimu pilihan yang istimewa,” ucap pria aneh itu sambil merunduk di hadapan Zurra yang semakin heran.

“Kau berani menyebut nama Tuhan Zheith tanpa kata ‘Tuhan’?” kata Zurra terkejut. “Siapa kau?” selidik Zurra.

“Ah, itu tak penting,” pria itu menepuk kepala Zurra. “Jadi, Zurra Vloreanth, bersediakah kau mengubah takdirmu? Dari seorang gelandangan tak berguna menjadi seseorang yang jauh lebih sempurna?” tanya pria itu dan tersenyum.

“Apa maksudmu? Darimana kau tahu namaku?”

“Jawab saja mau atau tidak!” potong pria aneh itu beriring dengan sambaran petir yang menggelegar dan memperderas hujan.

Zurra justru terdiam saat mendengar ucapan pria itu. Karena itu si pria menjewer telinga kanan Zurra hingga bocah itu merengek kesakitan.

“Kau dengar aku tidak?” pria itu menarik lebih kencang telinga Zurra.

“Hey, lepaskan!… apa-apaan kau?” ucap Zurra sambil berusaha melepas jeweran pria itu.

“Kau tidak mendengarkanku ya?” pria itu melepas telinga kanan Zurra dan menjewer telinga kiri Zurra hingga bocah kumuh itu kembali merengek kesakitan.

“Iya… iya… aku dengar,” kata Zurra sambil berusaha melepas tangan pria itu dari telinga kirinya. “Sekarang lepaskan aku!”

“Aku memintamu menjawabnya!” pria itu melepas telinga Zurra dan kali ini segera menarik hidung bocah itu. “Apa jawabanmu?”

“Iya aku bersedia,” jawab Zurra sengau.

Pria itu terkekeh dan melepas hidung Zurra yang sudah memerah. “Kau lucu sekali. Sepertinya aku tidak salah pilih,” katanya sambil berdiri dan mengusap rambut ungu Zurra.

“Jadi apa?” tanya Zurra jengkel.

Pria itu mendadak menghilangkan senyumannya. Matanya yang sayu itu kini menatap penuh misteri kepada Zurra. Menerima tatapan dingin, dan misterius itu, Zurra langsung merinding.

“M-maaf!” ucap Zurra lirih.

“Aku akan memberimu sebuah tanda. Tanda bahwa takdirmu akan berubah. Tanda bahwa setelah ini kau akan menjadi orang yang sangat hebat,” kata pria itu datar.

“Tanda?”

“Stigma,” balas pria itu cepat dan tanpa ekspresi. “Tapi begitu menerima stigma ini kau tak dapat menghapusnya.” Pria itu menjulurkan tangan kanannya ke atas menyambut hujan yang masih saja berjatuhan sedemikian deras. “Bersediakah kau, Zurra Vloreanth, untuk menerima takdir barumu ini?”

Zurra tak segera menjawabnya, namun dia sempat mengangguk menyetujuinya. Matanya terpaku kepada mata penuh misteri dari pria itu. Dia terlalu terkejut untuk membuka bibir.

“Bagus. Sekarang julurkan tangan kirimu! Biar kutorehkan stigma ini.”

Zurra menurut dan menjulurkan tangan kirinya. Pria itu langsung mencengkeram tangan kiri Zurra dengan tangan kanannya. Zurra menjerit kesakitan merasakan panas luar biasa yang menyayat-nyayat sekujur lengan kirinya. Berlanjut dengan rasa perih seolah daging pada tangan kirinya dicabik-cabik oleh puluhan pedang tajam. Zurra menjerit semakin keras saat bercak-bercak hitam mulai menjalar dari cengkeraman pria itu, bagaikan tato abstrak yang menjalar ke tangan kirinya. Bercak-bercak hitam itu awalnya melepuh dan terasa begitu panas, namun perlahan mulai terlihat bagaikan goresan-goresan tinta hitam atau semacam bekas luka bakar yang berpola.

Zurra menjerit keras dan jatuh tersungkur saat pria itu melepas cengkeramannya. Dia  tersungkur penuh rintihan di antara air yang menggenang. Dia terus merintih sambil mencengkeram pundak kirinya yang luput dari stigma. Pundak itu adalah satu-satunya bagian yang tak terjamah oleh stigma di tangan kirinya.

“Sekarang, mulai sekarang takdirmu akan berubah, Zurra Vloreanth. Hidupmu akan sepenuhnya berubah… mulai saat ini kau akan abadi.” Ucap pria di hadapan Zurra sambil berpaling.

“Si-Siapa… kau?” tanya Zurra di antara rintihan-rintihannya. “Sebenarnya siapa kau ini? Sebenarnya apa kau ini?” tuntut Zurra.

“Aku,” pria itu memalingkan kepalanya ke arah Zurra dan menatap tajam bocah itu, sehingga pola bintang yang terlukis di matanya tampak jelas oleh Zurra. “Zheith,”

Sekejap tubuh pria itu bercahaya semu dan sepasang sayap putih terbentang dari punggungnya, kemudian sosok yang mengaku Zheith itu terbang melesat ke angkasa menembus hujan.

“Tidak… tidak mungkin,” ucap Zurra tak percaya, kemudian stigma di tangan kirinya terasa terbakar lebih panas lagi hingga Zurra menjerit sedemikian kerasnya, sebelum dia pingsan di antara hujan deras itu.


[1] Tuhan Eve. Pengatur kehidupan, kematian, jodoh, harta, dan segala-galanya

0

Zurra Vloreanth (Perobekan Takdir Hitam) Prologue

Prolog….

 

Tersebutlah tiga sosok yang sangat berkuasa. Zheith, Dizt, dan Eza. Ketiganya memiliki kemahakuasaan yang mampu menciptakan sebuah dunia besar bernama Dreamvellia, atau kemudian dikenal dengan sebutan Araena.

Ketiga sosok yang menciptakan Araena kemudian menentukan wilayah kekuasaan mereka masing-masing, yang kemudian terciptalah tiga benua besar pada Araena. Eve, Flerha, dan Rhiell. Ketiga benua raksasa itu menaungi kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Araena. Zheith, membangun istananya, yaitu kahyangan jauh di atas langit Eve. Dia berkuasa, dan mengklaim dirinya sebagai Tuhan dari benua itu. Dizt berkuasa atas Flerha, dan Eza atas Rhiell. Ketiganyalah yang mengatur tentang kehidupan, kematian, harta, dan segala-galanya pada wilayah masing-masing. Kemudian terciptalah buku takdir untuk menampung segala hal yang termuat pada kehidupan Araena.

Segala-galanya mulai kacau saat ketiga benua mulai saling berperang. Ketiganya mengadu kekuatan untuk mengalahkan satu sama lain. Di antara ketiganya, Eve-lah yang paling berkuasa. Selama bertahun-tahun mengalami perang, tak sekalipun benua itu berhasil dikalahkan.

Perang besar itu semakin parah saat Dizt, dan Eza mengirimkan bala tentaranya untuk membantu Flerha, dan Rhiell dalam berperang. Hal itu membuat Eve berhasil runtuh karena tak kuasa menahan serangan dari dua kekuatan maha dahsyat.

Zheith tidak serta-merta menurunkan bala tentaranya. Dia melihat baik-baik bagaimana Eve porak-poranda akibat pertempuran tak seimbang itu. Kemudian muncul seorang ksatria yang menjadi tangan kanannya. Ksatria dengan kekuatan maha dahsyat, dan dengan kepatuhan pada Zheith yang sangat tinggi. Dia hanya akan tunduk pada Zheith.

Ksatria maha dahsyat itu diperintahkan Zheith untuk turun ke Eve, dan membantai semua tentara Dizt, dan Eza. Hanya dalam hitungan hari, Eve kembali bangkit, dan menundukkan Flerha, dan Rhiell. Sang ksatria langit itu kembali ke kahyangan, dan menemui Zheith. Takut semua orang akan memperebutkan ksatrianya itu, Zheith memecah tubuh si ksatria menjadi dua bentuk energi yang kemudian dibuang ke Eve. Zheith meyakini bahwa kedua energi itu akan menjelma menjadi dua ksatria besar yang kelak akan memperebutkan tahta Ketuhanan.

Setelah itu, ketiga benua memutuskan untuk menciptakan kedamaian. Tak ada lagi perang antara ketiganya, hanya ada saling membantu satu sama lain untuk kebaikan. Masa-masa peperangan itulah yang kemudian disebut dengan era Perang Benua.

Namun, semua perdamaian itu nantinya akan terusik saat era sihir muncul dan kembali memecah perang. Saat itulah era Perang Sihir dimulai.

*-*-*-*